makalah pengembangan pemikiran pendidikan islam di indonesia

MAKALAH

Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia

Disusun guna memenuhi tugas indifidual mata kuliah “Filsafat Pendidikan Islam” yang diampu olehBapak Drs. H. Zainuddin Bukhori. M.Ag.

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Ali Imron Wahid

152111579

 

Jurusan Tarbiyah

Fakultas Agama Islam

Universitas Islam Sultan Agung ( UNISSULA) Semarang

2012-2013

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya.Sehingga pada hari ini kita masih diberikan nikmat Iman, Islam  dan Ihsan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan atas junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang telah menuntun kita dari jaman jahiliyah (kebodohan) menuju jaman ilmiah (keilmuan).

Di dalam penulisan makalah ini penulis menyusun makalah yang berjudul ”Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia” yang dimana didalam pembahasan tersebut dibagi menjadi dua periode, yaitu: (1) Periode sebelum Indonesia merdeka, dan (2) periode Indonesia merdeka.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati.

 

Wabillahittaufiq  walhidayah 

Wassalamu’alaikkum Warrahmatullahi Wabaraakaatuh                                                              

Semarang, 28 Desember 2012

Penyusun,

Ali Imron Wahid

 


DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 1

DAFTAR ISI. 2

BAB I. 3

PENDAHULUAN.. 3

A.         Latar Belakang. 3

BAB II. 3

PEMBAHASAN.. 3

A.        Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia. 3

1.      Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam pada Periode Sebelum Indonesia Merdeka (1900-menjelang 1945)  4

2.      PemikiranPendidikanpadaPeriodeSetelah Indonesia Merdeka. 6

BAB III. 7

PENUTUP. 7

Kesimpulan. 7

DAFTAR PUSTAKA.. 8

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.               Latar Belakang

Di masa pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia, yaitu mulai sebelum Indonesia merdeka sampai Indonesia merdeka, bangsa Indonesia khususnya para pemikir Indonesia mempunyai berbagai macam usaha-usaha yang bertujuan untuk memajukan pendidikan Islam di Indonesia, hasil dari usaha-usaha tersebut mengakibatkan bangsa Indonesia  mengalami berbagai macam perubahan-perubahan dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Di periode sebelum Indonesia merdeka mulailah muncul para tokoh-tokoh pemikir muslim Indonesia yang berperan dalam pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia. Dan di periode Indonesia merdeka, di dalam pendidikan dan pengajaranya menggunakan sistem dualistis, yaitu menggabungkan antara Sistem pendidikan pada sekolah-sekolah umum dengan sistem pendidikan pada masyarakat Islam sendiri.

Dengan demikian penulis menyusun tugas makalah filsafat pendidikan Islam yang berjudul pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia

Kajian tentang wacana pengembangan pendidikan Islam di Indonesia ini akan ditelaah dari segi historis sampai sosiologis, sekaligus dikemukakan wacana-wacana yang berkembang didalamnya. Dalam kajian historis, penulis hanya membatasi pada dua periode, yaitu periode sebelum Indonesia merdeka (1900-menjelang 1945) dan periode Indonesia merdeka (1945-sekarang).

Dari masing-masing periode tersebut diduga muncul berbagai problem dan isu-isu pendidikan Islam yang menonjol, yang pada giliranya menjadi diskursus bagi pengembangan pendidikan Islam terutama di kalangan para pemikir, pengembang, dan pengelola pendidikan Islam di Indonesia dari satu periode ke periode berikutnya.

1.     Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam pada Periode Sebelum Indonesia Merdeka (1900-menjelang 1945)

Pada awal abad 20 M, Pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua golongan, yaitu:  (1) pendidikan yang diberikan oleh sekolah- sekolah Barat yang sekuler yang tidak mengenal ajaran agama, dan (2) pendidikan yang diberikan oleh pondok pesantren yang hanya mengenal agama saja. Atau menurut Wirjosukarto (1985) pada periode tersebut terdapat dua corak pendidikan, yaitu corak corak lama yang berpusat pada pesantren dan corak baru dari perguruan (sekolah-sekolah) yang didirikan oleh pemerintah Belanda.

Wirjosukarto (1985) merinci ciri-ciri dari corak pendidikan tersebut, pertama corak lama adalah: (1) menyiapkan kiayi atau ulama’ yang hanya menguasai masalh agama semata; (2) kurang diberikan pengetahuan untuk mengetahui perjuangan hidup sehari-hari dan pengetahuan umum sama sekali tidak diberikan; (3) sikap isolasi yang disebabkan karena sikap non kooperasi secara total dari pihak pesantren terhadap apa saja yang berbau Barat, dan aliran kebangunan Islam tidak leluasa untuk bisa masuk karena dihalang-halangi oleh pemerintah Belanda. Sedangkan ciriciri corak baru adalah: (1) hanya menonjolkan intelek dan sekaligus hendak melahirkan golongan intelek; (2) pada umumnya bersikap negatif terhadap agama Islam; (3) alam pikiranya terasing dari kehidupan bangsanya.

Dari uraian diatas dapat ditegaskan bahwa disamping kedua corak pendidikan tersebut diatas, juga terdapat corak pendidikan ketiga yang merupakan sintesa dari corak lama dan corak baru. Ia berusaha memasukkan pendidikan umum pada sekolah agama dan memasukkan pendidikan agama pada sekolah umum.

Corak pendidikan ketiga (sintesis), muncul bersamaan dengan munculnya Madrasah-madresah berkelasya yang muncul sejak tahun 1909. Menurut penelitian Mahmud Yunus, bahwa pendidikan Islam yang mula-mula berkelas dan memakai bangku, meja dan papan tulis, ialah Madrasah Adabiyah di Padang. Inilah Madrasah yang pertama kali di Minangkabau, bahkan di seluruh Indonesiam yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Adabiyah ini hidup sebagai Madrasah sampai tahun 1914, kemudian diubah menjadi HIS Adabiyah pada tahun 1915 yang merupakan HIS pertama di Minangkabau yang memasukkan pelajaran agama rencana pelajarannya.

Tokoh lain dalam pembaharuan pendidikan Islam di Minangkabau adalah Zainiddin Lebay el-Yunusiy (1890-1924), yang mendirikan Madrasah Diniyah pada tahun 1915 di Padang Panjang dengan sistem klasikal  dengan susunan  pelajaran yang terdiri atas ilmu-ilmu agama dan bahasa arab, ditambah dengan akhlak dan ilmu-ilmu umum, terutama sejarah dan ilmu bumi.

Menurut penelitian Maksum (1999), Madrasah Diniyah tersebut merupakan bentuk pendidikan yang sejalan dengan pola yang ditawarkan oleh gerakan pembaharuan di Timur Tengah, dan secara umum materi dan corak pendidikanya lebih bersifat Islami. Berbeda denga Madrasah Adabiyah, yang lebih merupakan sekolah Belanda yang ditambah dengan materi pendidikan agama.

Adapun tokoh yang memiliki pola yang senada dengan kegiatan yang dilakukan oleh Abdullah Ahmad di Padang adalah K.H.Ahmad Dahlan (1868-1923 M) ,yang pada tanggal 18 November 1912 mendirikan organisasi  Muhammadiyah bersama dengan teman-temanya di kota Yogyakata. Dikatakan senada terutama jika dilihat dari tiga hal, yaitu: (1) kegiatan tablidh, yaitu mengajarkan agama kepada kelompok orang dewasa dalam satu kursus yang teratur; (2) mendirikan sekolah swasta menurut model pendidikan gubernemen dengan ditambah beberapa pelajaran agama perminggu; (3) untuk membentuk kadernisasi guru-guru agama.

Di samping itu, terdapat tokoh lain yang berperan dalam pembaharuan pendidikan Islam di Jawa, yaitu KH. Hasyim Asy’ari, yang telah memperkenalkan pola pendidikan Madrasah di lingkungan pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur. Pesantren ini didirikan pada tahun 1899 yang pengajaranya lebih menitikberatkan pada ilmu-ilmu agama dan bahasa arab dengan sistem sorogan dan bandungan. Pada 1919 sistem pengajaranya mengalami pembaruan yang mulanya menggunakan sistem sorogan dan bandungan ditingkatkan dengan menggunakan sistem klasikal yang dikenal dengan madrasah.

Dari berbagai uraian tersebut diatas dapat ditegaskan bahwa pada periode sebelum Indonesia merdeka terdapat berbagai corak pengembangan pendidikan Islam, yaitu:

  1. Isolatif-Tradisional, dalam arti tidak mau menerima apa-apa yang berbau Barat (kolonial) dan terhambatnya pengaruh pemikiran-pemikiran modern dalam Islam untuk masuk kedalamnya.
  2. Sintesis, yakni mempertemukan antara corak lama (pondok pesantren) dan corak baru (model pendidikan kolonial/Barat) yang berwujut sekolah atau Madrasah.

 

 

 

2.     PemikiranPendidikanpadaPeriodeSetelah Indonesia Merdeka

Pada awal masa kemerdekaan, pemerintah dan bangsa Indonesia mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran yang dualistis, yaitu: (1)sistem pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah umum yang sekuler, tak mengenal ajaran agama, yang merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda; dan (2) sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang tumbuh dan berkembang dikalangan masyarakat Islam sendiri, baik yang bercorak isolatif-tradisional maupun yang bercorak sintesis dengan berbagai variasi pola pendidikanya sebagaimana uraian tersebut diatas.

Kedua sistem pendidikan tersebut sering dianggap saling bertentangan serta tumbuh dan berkembang secara terpisah satu sama lain. Sistem pendidikan dan pengajaran yang pertama pada mulanya hanya menjangkau dan dinikmati oleh sebagian kalangan masyarakat, terutama kalangan atas saja. Sedangkan yang ke dua sistem pendidikan dan pengajaran Islam tumbuh dan berkembang secara mandiri di kalangan rakyat dan berurat berakar dalam masyarakat. Hal ini diakui oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) dalam usul rekomendasinya yang disampaikan kepada pemerintah, tentang Rencana Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran Baru, pada tanggal 29 Desember 1945.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

1.  Pemikiran pendidikan Islam di Indonesia dikelompokkan menjadi dua periode, yaitu:  1) periode sebelum Indonesia merdeka, dan

2) periode Indonesia merdeka.

2. Corak-corak pemikiran pendidikan Islam sebelum Indonesia merdeka  meliputi:              a.  Corak lama

b.  Corak baru

c.  Corak Sintesis

3. Tokoh yang berperan di dalam pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia, diantaranya:

1.   Zainuddin Labay El-Yunusi

2.   KH. Ahmad Dahlan

3.  KH. Hasyim Asy’ari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Muhaimin, 2004, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Surabaya: Pustaka Pelajar.

Susanto, A, 2009, Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah.

Ihsan, Hamdani, 1998, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung :  CV Pustaka Setia.

 

 

Comments are closed.