EPISTEMOLOGI ILMU

EPISTEMOLOGI ILMU
BAYANI
Bayani adalah metode metode pemikiran khas Arab yang menekankan otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang digali lewat inferensi (istidlal). Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan, jadi secara langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu penafsiran dan penalaran. Dalam bayani, rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks. Dalam perspektif keagamaan, sasaran bidik metode bayani adalah aspek eksoterik (syariat).
A. Perkembangan Bayani
Bayan berarti penjelasan (eksplanasi). Secara terminologi, bayan mempunyai dua arti : 1) sebagai aturan-aturan penafsiran wacana (qawanin tafsir al-khithabi), 2) syarat-syarat memproduksi wacana (syurut intaj al-khithab).
Pengertian tentang bayani kemudian berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran Islam. Pada masa Syafi’i (767-820 M) yang dianggap sebagai peletak peletak yurisprudensi Islam, bayani berarti nama yang mencangkup makna-makna yang mengandung persoalan ushul (pokok) dan yang berkembang hingga ke cabang (furu’). Sedang dari segi metodologi, Syafi’i membagi bayan ini dalam lima bagian dan tingkatan. 1) Bayan yang tidak butuh penjelasan lanjut. 2) Bayan yang beberapa bagianya masih global, jadi masih butuh penjelasan sunnah. 3) Bayan yang keseluruhanya masih global, jadi masih butuh penjelasan sunnah. 4) Bayan sunnah, sebagai uraian atas sesuatu yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. 5)Bayan ijtihad, yang dilakukan dengan qiyas atas sesuatu yang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah. Dari lima derajat bayan tersebut Syafi’i kemudian menyatakan bahwa yang pokok ada tiga, yakni al-Qur’an, Sunnah dan qiyas, kemudian ditambah ijma’.
B. Sumber Pengetahuan
Meski menggunakan metode rasional filsafat seperti digagas Syathibi, epistimologibayani tetap berpijak pada teks (nash). Dalam ushul al-fiqh, yang dimaksud nash sebagai sumber pengetahuan bayani adalah al-Qur’an dan hadish. Ini berbeda dengan burhani yang mendasarkan pada rasio dan irfani pada intuisi.
Nash al-Qur’an meski sebagai sumber utama, tetapi ia tidak selalu memberikan ketentuan pasti. Dari segi penunjukan hukumnya (dilalah al-hukm), nash al-Qur’an dibagi menjadi dua bagian, qath’i dan zhanni. Nash qath’i dilalah adalah nash-nash yang menunjukkan adanya makna yang dapat difahami dengan pemahaman tertentu atau sebuah teks yang mempunyai arti satu dan dimungkinkan adanya takwil dan tafsir. Nash dzanni dilalah adalah nash-nash yang menunjukkan makna tapi masih memungkinkan adanya takwil, atau diubah dari makna asalnya menjadi makna yang lain.
Kenyataan tersebut juga terjadi pada asunnah , bahkan lebih luas. Dalam asunnah berlaku pada riwayat dan dilalah-nya. Dari segi riwayat berarti bahwa teks tersebut diyakini benar-benar dari Rasulullah atau tidak. Dari segi dilalah berarti bahwa makna teks hadish tersebuttelah memberikan makna yang pasti ataun masih bisa ditakwil.
C. Lafal & Makna, Ushul & Faru’
Berdasarkan kenyataan bahwa bayani berkaitan dengan teks dan hubunganya dengan ‘realitas’, maka persoalan pokok yang ada di dalamnya adalah sekitar masalah lafat-makna, dan ushul-furu’. Menurut al-Jabiri, persoalan lafat-makna mengandung dua aspek; teoritis dan praktis. Dari teoritis muncul tiga persoalan, 1) tentang makna suatu kata, 2) tentang analogi bahasa, 3) soal pemaknaan al-asma’ al-ayariyah, seperti kata shalat,shiyam, zakat dan lainya.
Selanjutnya, soal ushul-furu’. Menurut Jabiri, ushul disini tidak menunjuk pada dasar-dasar hukum fiqh, seperti al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas, tetapi pada pengertian umum bahwa ia adalah pangkal (atas) dari proses pengalian pengetahuan.Ushul adalah ujung rantai dari hubungan timbal balik dengan furu’.
D. Cara Mendapatkan Pengetahuan
Untuk mendapatkan pengetahuan, epistemologi bayani menempuh dua jalan. Pertama, berpegang pada redaksi (lafat)teks dengan menggunakan kaidah bahasa Arab, seperti nahw dan sharaf sebagai alat analisa. Kedua, menggunakan metode qiyas (analogi).
Irfani
Bisa diartikan sebagai pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewt penyinaran hakikat oleh tuhan kepada hambanya (kasyf) setelah adanya olah rohani (riyadlah) yang ditentukan ats dasar cinta (love).
1. Perkembangan irfani
Secara umum bisa dibagi dalm 5 fase: Pertama, Fase pembibitan, pada abad pertam hijriah. kedua, fase kelahiran, pada abad ke dua hijriah pada masaa ini, bebrapa tokoh sufisme mulai berbicara terbuka tentang irfan. Ke tiga, fase pertumbuhan, terjadi pada abad 3-4 hijriah. Para tokoh sufisme mulai mengaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan jtingkah laku, sehingga sufisme menjadi ilmu moral keagamaan (akhlak). Keempat, fase puncak, terjadi pada 5 hijriah pada priode ini. Irfan mencapai masa gemilang. Kelima, fase spesikasi, terjadi pada abad ke 6 dan 7 hijriah. Berkat pengaruh pribadi al-Ghazali yang besar, irfan menjadi semakin dikenal dan berkembang dalam masyarakat islam dan pada fase ini sacara epistimologis, irfan telah terpecah dalam dua aliran yang pertama irfan sunni kedau irafn teoritis yang didominasi pemikiran filsafat, ke enam fase kemunduran, terjadi pada abad ke 8 hjriah, pada fase ini irfan tidak mengalami perkembangan bahkan justru mengalami kemunduran.
2. Metode irfan
Pengetahuan irfan tidak didasarkan atas teks seperti bayani, juga tidak atas rasio seperti burhani tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. secara metedologis, pengetahuan rohani setidaknya dipoeroleh melalui tiga tahapan,
1. Persiapan
2. Penerimaan
3. Pengungkapan baik dengan lisan maupun tulisan.
Tahap pertama persiapan, untuk bisa menerima limpahan pengetahuan, seseorang yang biasanya disebut salik harus menyelesaikan jenjang-jenjangkehiduaoan seperitual:
1. Taubat
2. wara’
3. zuhud
4. faqir
5. sabar
6. tawakal
7. ridlo
tahap kedua penerimaan, seseorang akan mendapatkan limpahan langsung dari tuhan searas illuminatif atau noetic. Dalam kajian filsafat mehdi yazdi, pada tahap ini sesorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melilhat realitas dirinya sendiri (musyahadah) sebagai objek yang diketahui
Tahap ketiga, pengungkapan. Dimasa pengalaman mistik diinterprestasikan dan diungkapkan keopda orang lain lewat ucapan atau tulisan.
3. Zhahir dan batin
Sesuai dengan sasaran bidiik irfan yang isoterik isu sentral irfan adala zhahir dan batin, bukan sebagai konsep yang berlawanan tetapi sebagaia pasangan. Aspek zhahir teks adalah bacaannya sadang aspek batinnya adalah takwilnya. Jika dianalogikan dengan bayani, konsep zhahi- batin ini tidak berbeda dengan lafal-makna. Bedanya, dalam epistimologi bayani sesorang berngakat dari lafal menuju makna, sedangkan dalam irfani sesorang justru brangkat dari makna menuju lafal, dari batin menuju zhahiratau dalam bahasa al-Ghazali, makna sebagai ashl sedang lafal mengikuti makna (sebagai furu’).
Persoalanya, bagaimana makna atau demensi batin yang dipreroleh dari kasyf tersebut diungkapkan? Menurut Jabiri, makna batin ini.
Pertama, diungkapkan dengan cara apa yang disebut sebagai I’tibar atau qiyas irfani. yakni analogi makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna zhahir yang ada dalam teks. Sebagai contoh, qiyas yang dilakukan kaum syiah yang menyakini keunggulan keluargga imam ali. Atas QS.ar-Rahman,19-22 “Dia membiarkan dua lautan mengalir dan bertemu diantara keduannya ada batas yang tidak terlampaui dan dari keduannya keluar mutiara dan marjan”. Dalam hal ini, Ali dan fatimah dinisbatkan pada dua lautan, Muhammad SAW dinisbatkan pada batas (barzah), sedang hasan husain dinisbatkan pada mutiara dan marjan.
Degan demikian, qiyas irfani tida sama dengan qiyas bayani atau silogisme. Qiyas irfsani berusaha menyesuai konsep yang telah ada atau pengeahuan yang diperoleh lewat kasyf dengan teks.
Kedua, pengetahuan kasfy diungkapkan lewat apa yang disebut dengan syathahat. Syathahat lebih merupakan ungkapan lisan tentang perasaan (al-Wijdan) karane limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibareni dengan pengakuan.
4. Nubuwah dan walayah
Nubuwah adalah padanan dari konsep zhahir sedang walyah pasangan dari batin. Bedanya, kenabian ditandai dengan wahyu dan mu’jizat serta diperoleh dengan tanpa usaha. Sedang kewalian ditandai dengan karomah serta irfan, dan diperoleh lewat usaha.

BURHANI
Menyadarkan diri ada kekuatan rasio, akal yang dilakukan lewat dalil-dalil logika bahkan dalil-dalil agama hanya bisa bisa diterima sepanjang ia sesuai dengan logika rasional.
1. Sekilas penjelsan burhani
Burhani bisa diartikan sebagai suatu aktifitas berfikir untuk menetapkan kebenaran proposisi melalui pendekatan deduktif dengan mengaitkan yang satu dengan proposisi yang lain yang telah terbukti kebenaranya secara aksiomatik.
2. Bahsa dan logika
Persoalan bahasa dan logika muncul ketika terjadi perdebatan tentenag kata dan makna antara abu sa’id al-Syiraffi dengan abu bisyr matta.
3. Silogisme burhani
Ciri utama burhani adalah silogisme, tetai silogisme tidak mesti menunjukan burhani. Dalam bahasa Arab, silogisme diterjemahkan dengan qiyas ataau al-qiyas al-jam yang mengacu pada makna ashal mengumpulkan secara istilahsilogisme adalah suatu bentuk argumen dimana dua proposisi yang disebut premis, dirujukan bersama sedemikian rupa, sehingga sebuah keputusan (konklusi) pasti menyertai.

Proses Islamisasi (NEW)

MAKALAH

PROSES ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN KONTEMPORER

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah “Filsafat Umum” yang diampu oleh Bapak Sarjuni, S.Ag., M.Hum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

 

Ali Imron Wahid

(152111579)

Edy Nurtaufiq

(152111590)

Habiburrohman

(152111601)

Ilham Firdaus

(152111611)

 

 

Program Studi Tarbiyah Fakultas Agama Islam

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

Tahun Akademik 2011/2012


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, taufiq, hidayah dan hidayah-Nya. Sehingga pada hari ini kita masih diberikan nikmat Iman, Islam dan Ihsan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan atas junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang telah menuntun kita dari jaman jahiliyah (kebodohan) menuju jaman ilmiah (keilmuan). Sehingga mampu mengantarkan kita, khususnya saya dalam menyelesaikan makalah yang berjudul “Proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer”, dalam perkuliahan “Filsafat Umum” yang diampu oleh Bapak Sarjuni, S.Ag., M.Hum.

Islamisasi merupakan sebuah karkter dan identitas Islam sebagai pandangan hidup (worldview) yang di dalamnya terdapat pandangan integral terhadap konsep ilmu (epistemology) dan konsep Tuhan (theology). Bahkan bukan hanya itu, Islam adalah agama yang memiliki pandangan yang fundamental tentang Tuhan, kehidupan, manusia, alam semesta, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, Islam adalah agama sekaligus peradaban.[1]

Secara historis, ide atau gagasan islamisasi ilmu pengetahuan muncul pada saat diselenggarakan konferensi dunia yang pertama tentang pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977. Konferensi yang diprakarsai oleh King Abdul Aziz University ini berhasil membahas 150 makalah yang ditulis oleh sarjana-sarjana dari 40 negara, dan merumuskan rekomendasi untuk pembenahan serta penyempurnaan sistem pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh umat Islam seluruh dunia. Salah satu gagasan yang direkomendasikan adalah menyangkut islamisasi ilmu pengetahuan. Gagasan ini antara lain dilontarkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam makalahnya yang berjudul “Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and the Aims of Education, dan Ismail Raji al- Faruqi dalam makalahnya “Islamicizing social science.”[2]

Dari kedua makalah ini kemudian gagasan tentang islamisasi ilmu pengetahuan menjadi tersebar luas ke masyarakat muslim dunia. Pihak pro maupun kontra-pun bermunculan. Diantara tokoh yang mendukung “pro” terhadap proyek islamisasi tersebut antara lain adalah Seyyed Hossein Nasr (1933), Ziauddin Sardar (1951) dan beberapa tokoh lain yang menolak adanya westernisasi ilmu.[3] Sedangkan pihak yang menentang “kontra” terhadap gagasan islamisasi ini yaitu beberapa pemikir muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abdus Salam, Abdul Karim Soroush dan Bassam Tibi. Mereka bukan hanya menolak akan tetapi juga mengkritik gagasan islamisasi ilmu pengetahuan. Sebagaimana Fazlur Rahman, misalnya, dia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan karena tidak ada yang salah di dalam ilmu pengetahuan. Masalahnya hanya dalam penggunaannya. Menurut Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan memiliki dua kualitas. Dia kemudian mencontohkan seperti halnya “senjata bermata dua” yang harus digunakan dengan hati-hati dan bertanggung-jawab sekaligus sangat penting menggunakannya secara benar ketika memperolehnya.[4]

Melihat dari pro kontra inilah kemudian diskursus mengenai islamisasi menjadi sesuatu hal yang menarik. Dan makalah ini setidaknya akan menjadi sebuah ‘‘bentuk penilaian’’  bagi para pembaca khususnya para akademisi muslim yang terlibat di dunia pemikiran, dalam melihat ide atau gagasan islamisasi ini. Karena dengan memahami tentang konsep yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan dipopulerkan oleh Ismail Raji al- Faruqi tentang islamisasi yang ditulis dalam makalah ini, maka diharapkan para pembaca akan dapat mengambil gambaran secara umum tentang konsep islamisasi yang dibawa oleh kedua tokoh tersebut dan dapat memberikan penilaian sendiri terhadapnya.

Namun menyadari akan keterbatasan saya sebagai manusia biasa, sudah barang tentu makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Sehingga membutuhkan banyak kritik dan saran dari para pembaca, khusunya dari Bapak Sarjuni, S.Ag., M.Hum. untuk saya jadikan sebagai salah satu bahan pembenahan diri, agar di masa mendatang dapat memunculkan karya ilmiah yang lebih memadai.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Semarang, 30 0ktober 2012
Penyusun,
 
 
Habiburrohman

 


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. ii

PENDAHULUAN.. ii

A.        Latar Belakang Masalah. ii

B.        Perumusan Masalah. ii

PEMBAHASAN MASALAH.. ii

A.        Proses Islamisasi Menurut Al-Attas. ii

B.        Proses Islamisasi Menurut Al-Faruqi ii

PENUTUP. ii

A.        Kesimpulan. ii

B.        Kritik dan Saran. ii

DAFTAR PUSTAKA.. ii

 

 

 


PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Gagasan al-Attas tentang islamisasi ilmu pengetahuan muncul karena tidak adanya landasan pengatahuan yang bersifat netral, sehingga ilmu pun tidak dapat berdiri bebas nilai. Menurutnya, ilmu tidaklah bebas nilai (value-free) akan tetapi syarat nilai (value laden).[5] Pengetahuan dan ilmu yang tersebar sampai ke tengah masyarakat dunia, termasuk masyarakat Islam, telah diwarnai corak budaya dan peradaban Barat. Apa yang dirumuskan dan disebarkan adalah pengetahuan yang dituangi dengan watak dan kepribadian peradaban Barat. Pengetahuan yang disajikan dan dibawakan itu berupa pengetahuan yang semu yang dilebur secara halus dengan yang sejati (the real) sehingga manusia yang mengambilnya dengan tidak sadar seakan-akan menerima pengetahuan yang sejati. Karena itu, al-Attas memandang bahwa peradaban Barat tidak layak untuk dikonsumsi sebelum diseleksi terlebih dahulu.[6]

Sedangkan alasan yang melatarbelakangi perlunya islamisasi dalam pandangan al-Faruqi adalah bahwa umat Islam saat ini berada dalam keadaan yang lemah. Kemerosotan muslim dewasa ini telah menjadikan Islam berada pada zaman kemunduran. Kondisi yang demikian menyebabkan meluasnya kebodohan. Di kalangan kaum muslimin berkembang buta huruf, kebodohan, dan tahayul. Akibatnya, umat Islam lari kepada keyakinan yang buta, bersandar kepada literalisme dan legalisme, atau menyerahkan diri kepada pemimpin-pemimpin atau tokoh-tokoh mereka. Dan meninggalkan dinamika ijtihad sebagai suatu sumber kreativitas yang semestinya dipertahankan.[7] Zaman kemunduran umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan telah menempatkan umat Islam berada di anak tangga bangsa-bangsa terbawah.[8] Dalam kondisi seperti ini masyarakat muslim melihat kemajuan Barat sebagai sesuatu yang mengagumkan. Hal ini menyebabkan sebagian kaum muslimin tergoda oleh kemajuan Barat dan berupaya melakukan reformasi dengan jalan westernisasi. Ternyata jalan yang ditempuh melalui jalan westernisasi telah menghancurkan umat Islam sendiri dari ajaran al-Qur’an dan hadis. Sebab berbagai pandangan dari Barat, diterima umat Islam tanpa dibarengi dengan adanya filter.[9]

Jika melihat kedua alasan atau latar belakang perlunya islamisasi menurut kedua tokoh ini, maka akan terlihat adanya kesamaan pemikiran yaitu bahwa peradaban yang dibawa oleh Barat adalah peradaban yang menjunjung tinggi nilai dikotomisme. Dan nilai ini tentunya bertentangan dengan nilai yang ada dalam islam yaitu tauhid. Hanya saja perbedaan kedua tokoh tersebut terlihat dalam segi “analisa”. Jika al-Attas melihat dan menganalisa permasalahan yang muncul di dunia Islam sekarang ini adalah pengaruh eksternal (luar Islam) yang datang dari Barat sedangkan al-Faruqi melihatnya dari masalah internal (tubuh umat Islam) itu sendiri.

B.     Perumusan Masalah

Dalam makalah ini kami akan membahas tentang proses islamisasi dari kedua tokoh di atas. Namun melihat perdedaan pandangan mereka mengenai latar belakang adanya islamisasi, maka prosesnya pun pasti juga akan berbeda. Maka dari itu kami rumuskan masalahnya sebagai berikut:

  1. Bagaimana langkah atau proses islamisasi menurut Al-Attas?
  2. Bagaimana pula langkah atau proses islamisasi menurut Al-Faruqi?
  3. Apa perbedaan dan persamaan dari kedua pandangan tersebut?

Namun masalah yang ke tiga ini akan kami masukkan dalam bab berikutnya (penutup) dalam sub bab kesimpulan..

 


PEMBAHASAN MASALAH

A.    Proses Islamisasi Menurut Al-Attas

Dalam pandangan al-Attas, sebelum islamisasi ilmu dilaksanakan, terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah islamisasi bahasa. Menurutnya, islamisasi bahasa ini ditunjukkan oleh al-Qur’an sendiri ketika pertama kali diwahyukan di antara bangsa Arab, bahasa, pikiran dan nalar saling berhubungan erat. Maka, islamisasi bahasa menyebabkan islamisasi nalar atau pikiran.[10] Islamisasi bahasa Arab yang termuati ilham ketuhanan dalam bentuk wahyu telah mengubah kedudukan bahasa Arab, di antara bahasa-bahasa manusia, menjadi satu-satunya bahasa yang hidup yang diilhami Tuhan, dan dalam pengertian ini menjadi baru dan tersempurnakan sampai tingkat perbandingan tertinggi terutama kosa kata dasar Islam, tidak tergantung pada perubahan dan perkembangan dan tidak dipengaruhi oleh perubahan sosial seperti halnya semua bahasa lainnya yang berasal dari kebudayaan dan tradisi. Terangkatnya bahasa Arab sebagai bahasa di mana Tuhan mewahyukan kitab suci al-Qur’an kepada manusia menjadikan bahasa itu terpelihara tanpa perubahan, tetap hidup dan tetap kekal sebagai bahasa Arab standar yang luhur. Oleh karena itu, arti istilah-istilah yang bertalian dengan Islam, tidak ada perubahan sosial, sehingga untuk segala zaman dan setiap generasi pengetahuan lengkap tentang Islam menjadi mungkin, karena pengetahuan tersebut termasuk norma-normanya merupakan suatu hal yang telah terbangun mapan, dan bukan termasuk sesuatu yang berkembang seperti halnya dengan manusia dan sejarah yang dikatakan berkembang.[11]

Lebih lanjut menurut al-Attas, istilah-istilah Islam merupakan pemersatu bangsa-bangsa muslim, bukan hanya karena kesamaan agama semata, melainkan karena istilah-istilah itu tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apapun secara memuaskan. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa lain, maka istilah-istilah itu menjadi kehilangan makna ruhaniyah-nya. Karena itu, istilah Islam tidak dapat diterjemahkan dan dipahami dengan pengertian lain, meski istilah tersebut di pakai dan ditunjukkan pada nabi-nabi sebelum Muhammad saw. Adapun makna Q.S. al-Maidah ayat 3 yang menyebutkan “hari penyempurnaan agama Islam”, di pahami al-Attas sebagai pernyataan wahyu bahwa sejak saat itu Islam telah merupakan sebuah tatanan agama yang total dan tertutup sehingga tidak ada peluang untuk terjadinya perubahan.[12]

Sedangkan dalam prosesnya, islamisasi yang dicanangkan oleh al-Attas mempunyai beberapa langkah yaitu:

  1. Mengisolisir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat.[13]

Unsur-unsur tersebut terdiri dari:

a)         Akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia.

b)        Bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran (The concept of dualism which involved of reality and truth).

c)         Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekuler (secular worldview).

d)        Membela doktrin humanism (the doctrine of humanism).

e)         Menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.[14]

Unsur-unsur tersebut harus dihilangkan dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, fisika, dan aplikasi harus diislamkan juga. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern, beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika, penafsiran historitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, rasionalitas proses-proses ilmiah, teori tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, keterkaitannya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti.

  1. Memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevan.[15]

Al-Attas menyarankan, agar unsur dan konsep utama Islam mengambil alih unsur-unsur dan konsep-konsep asing tersebut. Konsep utama Islam tersebut yaitu:

a)         Konsep Agama (ad-din)

b)        Konsep Manusia (al-insan)

c)         Konsep Pengetahuan (al-‘ilm dan al-ma’rifah)

d)        Konsep kearifan (al-hikmah)

e)         Konsep keadilan (al-‘adl)

f)         Konsep perbuatan yang benar (al-‘amal)

g)        Konsep universitas (kulliyyah jami’ah).[16]

Tujuan Islamisasi ilmu sendiri adalah untuk melindungi umat Islam dari ilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Islamisasi ilmu bertujuan untuk mengembangkan ilmu yang hakiki yang boleh membangunkan pemikiran dan pribadi muslim yang akan menambahkan lagi keimanannya kepada Allah. Islamisasi ilmu akan melahirkan keamanan, kebaikan, keadilan, dan kekuatan iman.[17] Adapun yang menjadi obyek Islamisasi bukan obyek yang berada diluar pikiran tapi adalah yang terdapat dalam jiwa atau pikiran seseorang. Dan pendekatannya adalah pendekatan dalam Islam yang berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan dengan wahyu (revelation tradition), akal (reason), pengalaman (experience) dan intuisi (intuition).[18] Karena Islam pada dasarnya mengkombinasikan antara metodologi rasionalisme dan empirisisme, tapi dengan tambahan wahyu sebagai sumber kebenaran tentang sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh metode empris-rasional tersebut. Jadi meskipun dalam aspek rasionalitas dan metodologi pencarian kebenaran dalam Islam memiliki beberapa kesamaan dengan pandangan filsafat Yunani, namun secara mendasar dibedakan oleh pandangan hidup Islam (Islamic worldview).

Jadi menurut al-Attas, dalam prosesnya, islamisasi ilmu melibatkan dua langkah utama yang saling berhubungan: pertama, proses mengeluarkan unsur-unsur dan konsep-konsep penting Barat dari suatu ilmu, dan kedua, memasukkan unsur-unsur dan konsep-konsep utama Islam ke dalamnya.[19] Dan untuk memulai kedua proses diatas, al-Attas menegaskan bahwa islamisasi diawali dengan islamisasi bahasa dan ini dibuktikan oleh al-Qur’an.[20] Sebab alasannya, “bahasa, pemikiran dan rasionalitas berkaitan erat dan saling bergantung dalam memproyeksikan pandangan dunia (worldview) atau visi hakikat kepada manusia. Pengaruh islamisasi bahasa menghasilkan islamisasi pemikiran dan penalaran,” karena dalam bahasa terdapat istilah dan dalam setiap istilah mengandung konsep yang harus dipahami oleh akal pikiran. Di sinilah pentingnya pengaruh islamisasi dalam bahasa, karena islamisasi bahasa akan menghasilkan islamisasi pemikiran dan penalaran.[21]

B.     Proses Islamisasi Menurut Al-Faruqi

Dalam pandangan al-Faruqi berkenaan dengan langkah-langkah dalam islamisasi ilmu pengetahuan, dia mengemukakan ide islamisasi ilmunya berlandaskan pada esensi tauhid yang memiliki makna bahwa ilmu pengetahuan harus mempunyai kebenarannya.[22] Al-Faruqi menggariskan beberapa prinsip dalam pandangan Islam sebagai kerangka pemikiran metodologi dan cara hidup Islam. Prinsip-prinsip tersebut ialah:

  1. Keesaan Allah.
  2. Kesatuan alam semesta.
  3. Kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan.[23]

Menurut al-Faruqi, kebenaran wahyu dan kebenaran akal itu tidak bertentangan tetapi saling berhubungan dan keduanya saling melengkapi. Karena bagaimanapun, kepercayaan terhadap agama yang di topang oleh wahyu merupakan pemberian dari Allah dan akal juga merupakan pemberian dari Allah yang diciptakan untuk mencari kebenaran. Syarat-syarat kesatuan kebenaran menurut al-Faruqi yaitu: pertama, kesatuan kebenaran tidak boleh bertentangan dengan realitas sebab wahyu merupakan firman dari Allah yang pasti cocok dengan realitas. Kedua, kesatuan kebenaran yang dirumuskan, antara wahyu dan kebenaran tidak boleh ada pertentangan, prinsip ini bersifat mutlak. Dan ketiga, kesatuan kebenaran sifatnya tidak terbatas dan tidak ada akhir. Karena pola dari Allah tidak terhingga, oleh karena itu diperlukan sifat yang terbuka terhadap segala sesuatu yang baru.[24]

  1. Kesatuan hidup.[25]
  2. Kesatuan umat manusia.

Islam menganjurkan kebebasan dalam hubungannya dengan kemanusiaan tanpa batas-batas yang senantiasa menghampiri mereka. Dalam konteks ilmu pengetahuan, nampak bahwa keinginan al-Faruqi, ilmuwan beserta penemuannya, hendaknya memberi kesejahteraan kepada umat manusia tanpa memandang etnis. Ketaqwaan yang dipergunakan oleh Islam yang membebaskan dari belenggu himpitan dunia hendaknya menjadi landasan bagi para ilmuan.[26]

Al-Faruqi juga menawarkan suatu rancangan kerja sistematis yang menyeluruh untuk program islamisasi ilmu pengrtahuannya yang merupakan hasil dari usahanya selama bertahun-tahun melaksanakan perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi melalui sejumlah seminar internasional yang diselenggarakan.[27] Rencana kerja al-Faruqi untuk program islamisasi mempunyai lima sasaran yaitu: pertama, menguasai disiplin-disiplin modern. Kedua, menguasai khazanah Islam. Ketiga, menentukan relevansi Islam yang spesifik pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern. Keempat. mencari cara-cara untuk melakukan sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu pengetahuan modern. Dan kelima, mengarahkan pemikiran Islam ke lintasan-lintasan yang mengarah pada pemenuhan pola rancangan Allah.[28]

Menurut al-Faruqi, sasaran di atas bisa dicapai melalui 12 langkah sistematis yang pada akhirnya mengarah pada Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu: pertama, penguasaan terhadap disiplin-disiplin modern. Kedua, peninjauan disiplin ilmu modern. Ketiga, penguasaan ilmu warisan Islam yang berupa antologi.[29] Keempat, penguasaan ilmu warisan Islam yang berupa analisis. Kelima, penentuan relevansi Islam yang spesifik untuk setiap disiplin ilmu. Relevansi ini, kata al-Faruqi, dapat ditetapkan dengan mengajukan tiga persoalan yaitu: a). Apa yang telah disumbangkan oleh Islam, mulai dari al-Qur’an hingga pemikiran-pemikiran kaum modernis, dalam keseluruhan masalah yang telah dicakup oleh disiplin-disiplin modern; b). Seberapa besar sumbangan itu jika dibandingkan dengan hasil-hasil yang telah diperoleh oleh disiplin-disiplin tersebut; c) Apabila ada bidang-bidang masalah yang sedikit diperhatikan atau bahkan sama sekali tidak diabaikan oleh ilmu warisan Islam, kearah mana kaum muslim harus mengusahakan untuk mengisi kekurangan itu, juga memformulasikan masalah-masalah, dan memperluas visi disiplin tersebut. Kemudian yang keenam, penilaian kritis terhadap disiplin modern. Ketujuh, penilaian krisis terhadap khazanah Islam. Kedelapan, survei mengenai problem-problem terbesar umat Islam. Kesembilan, survei mengenai problem-problem umat manusia. Kesepuluh, analisa dan sintesis kreatif. Kesebelas, merumuskan kembali disiplin-disiplin ilmu dalam kerangka kerja (framework) Islam. Dan kedua belas, penyebarluasan ilmu pengetahuan yang sudah diislamkan. Selain langkah tersebut, alat-alat bantu lain untuk mempercepat islamisasi pengetahuan adalah dengan mengadakan konferensi-konferensi dan seminar untuk melibatkan berbagai ahli di bidang-bidang illmu yang sesuai dalam merancang pemecahan masalah-masalah yang menguasai antar disiplin. Para ahli yang terlibat harus diberi kesempatan bertemu dengan para staf pengajar. Selanjutnya pertemuan-pertemuan tersebut harus menjajaki persoalan metode yang diperlukan.[30]

 


PENUTUP

A.    Kesimpulan

Demikian langkah sistematis yang ditawarkan oleh al-Attas dan al-Faruqi dalam rangka islamisasi ilmu pengetahuan. Walaupun keduanya memiliki sedikit perbedaan di dalamnya, namun pada intinya, keduanya memiliki visi yang sama. Dari kesemua langkah yang diajukan oleh kedua tokoh ini, tentunya dalam aplikasinya, membutuhkan energi ekstra dan kerja sama berbagai belah pihak. Karena, islamisasi merupakan proyek besar jangka panjang yang membutuhkan analisa tajam dan akurat, maka dibutuhkan usaha besar pula dalam mengintegrasikan setiap disiplin keilmuan yang digeluti oleh seluruh cendekiawan muslim.

Berdasarkan pada uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara Syed Naquib al- Attas dan Ismail Raji al-Faruqi dalam kaitannya dengan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan. Yaitu, pertama, jika al-Attas lebih mengutamakan subyek islamisasi ilmu maka al- Faruqi lebih mengutamakan obyeknya. Kedua, jika al-Attas hanya membatasi pada ilmu kontemporer untuk program islamisasi ilmu-nya maka al-Faruqi meyakini bahwa semua ilmu harus diislamisasikan. Dan ketiga, jika al-Attas mengawali dengan melihat dan menganalisa permasalahan yang muncul di dunia Islam sekarang ini adalah pengaruh eksternal (luar Islam) yang datang dari Barat sedangkan al-Faruqi mengawalinya dari masalah internal (tubuh umat Islam) itu sendiri.

Terlepas dari perbedaan di atas, sejatinya ada beberapa kesamaan antara pemikiran al-Attas dan al-Faruqi mengenai ide islamisasi ini. Di antara persamaan pemikiran kedua tokoh tersebut yaitu kesamaan pemikiran tentang ilmu. Menurut mereka ilmu itu tidak bebas nilai (value-free) akan tetapi syarat nilai (value laden).

B.     Kritik dan Saran

Keduanya juga meyakini bahwa peradaban yang dibawa oleh Barat adalah peradaban yang menjunjung tinggi nilai dikotomisme. Dan nilai ini tentunya bertentangan dengan nilai yang ada dalam ajaran Islam yaitu tauhid. Konsep ilmu menurut mereka harus berlandaskan pada metode ketauhidan yang diajarkan oleh al-Qur’an. Mereka juga meyakini bahwa sumber dari semua masalah umat adalah sistem pendidikan terutama dalam problematika ilmu yang berkembang saat ini. Dan mereka yakin bahwa islamisasi ilmu pengetahuan merupakan satu solusi untuk mengatasi problematika umat tersebut.

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur’an dan Terjemahnya.
  2. Definisi lengkap tentang pandangan hidup Islam (Islamic worldview) dapat dilihat dalam tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi, Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam dalam Islamia, majalah pemikiran dan peradaban Islam Thn II No 5, April-Juni 2005.
  3. Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed M. Naquib Al-Attas (Malaysia: ISTAC, 1998).
  4. Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, Pemberdayaan, Pengembangan kurikulum, hingga Redifinisi Islamisasi Pengetahuan, (Bandung : Nuansa, 2003).
  5. Seyyed Hossein Nasr menolak sains Barat modern dan mengusulkan scientia sacra sebagai alternatif dalam  karyanya Knowledge and the Sacred (Pakistan: Suhail Academy Lahore, 1988).
  6. Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu (ISID Gontor: Center for Islamic & Occidental Studis, 2007).
  7. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993).
  8. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education (London: Hodder & Stouhton, 1979).
  9. Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jogjakarta: Ar-Ruz, 2005).
  10. Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, cet. Ke 5, Yogyakarta: Belukar, 2008.
  11. Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge (Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1989).
  12. Al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM, 1978).
  13. Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).
  14. Syed Muhammad Naquib al-Attas, A Commentary on the Hujat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri, (Kuala Lumpur: Ministry of Education and Culture, 1986).
  15. Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam a Framework for an Islamic Philosophy of Education (Kuala Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia, 1980).
  16. Ismail Raji al-Faruqi, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terj. Anas Mahyuddin (Bandung: Penerbit Pustaka, 1984).


[1] Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed M. Naquib Al-Attas (Malaysia: ISTAC, 1998), p. 298.

[2] Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, Pemberdayaan, Pengembangan kurikulum, hingga Redifinisi Islamisasi Pengetahuan, (Bandung : Nuansa, 2003), p. 330.

[3] Seyyed Hossein Nasr menolak sains Barat modern dan mengusulkan scientia sacra sebagai alternatif dalam  karyanya Knowledge and the Sacred (Pakistan: Suhail Academy Lahore, 1988). Sedangkan Ziauddin Sardar dan teman-temannya membentuk Gagasan Idjamali (Idjmali Idea).  Lihat dalam bukunya Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu (ISID Gontor: Center for Islamic & Occidental Studis, 2007), p. 10.

[4] Dikutip dari Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu…, p. 18.

[5] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), p. 134. Lihat juga Syed Muhammad Naquib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education (London: Hodder & Stouhton, 1979) 19-20. Terkait dengan ilmu adalah syarat nilai (value laden) dapat dilihat dalam bukunya Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jogjakarta: Ar-Ruz, 2005), p. 7, 178-179. Dan menurut Thomas Samuel Kuhn, karena ilmu itu merupakan human and social construction maka ilmu itu tidak bebas nilai, lihat dalam Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2008, cet ke-5), p. 129

[6] Abdullah Ahmad Na’im, dkk., Pemikiran Islam Kontemporer (Yogyakarta: Jendela, 2003), p. 338.

[7] Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge (Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1989), p. 40

[8] Ibid. p. 1-3

[9] Ibid. p. 4-5

[10] Al-Attas, Islam and Secularism…, p. 45. Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed M. Naquib Al-Attas…, p. 313. Abdullah Ahmad Na’im, et al., Pemikiran Islam Kontemporer…, p. 340.

[11]  Al-Attas, op. cit., p. passim.

[12]  Abdullah ahmad na’im, et al., Pemikiran Islam Kontempore.r…, p. 341.

[13]  Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy …, p. 313.

[14] Untuk lebih jelasnya silahkan lihat dalam al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM, 1978),  p. 38 dan juga al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), p. 88.

[15]  Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy…, p. 313.

[16]  Al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam…, p. 233.

[17]  Rosnani Hashim, Gagasan Islamisasi…, p. 35.

[18]  Syed Muhammad Naquib al-Attas, A Commentary on the Hujat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri, (Kuala Lumpur: Ministry of Education and Culture, 1986), p. 464-465.

[19]  Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam a Framework for an Islamic Philosophy of Education (Kuala Lumpur: Muslim Youth Movement of Malaysia, 1980), p. 43.

[20]   Menurut al-Attas, sesungguhnya telah ada bahasa Islam, yaitu yang terdiri dari kosakata dasar “kunci” yang tersusun atas istilah-istilah dan konsep-konsep yang terIslamkan. Oleh karena itu, al-Attas gigih memperkenalkan konsep “bahasa Islami”. al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam…, p. 26-30.

[21]  Al-Attas, Islam and Secularism…, p. 42-43. Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy…, p. 313. Kebingungan dalam bahasa (semantic) disebabkan oleh kesalahan penerapan konsep konsep kunci dalam kosakata Islam dan hal ini dapat mempengaruhi persepsi sekarang tentang pandangan dunia Islam. al-Attas, The Concept of Education in Islam…, p. 12.

[22]  Rosnani Hasim, Gagasan Islamisasi…, p. 36.

[23]  Lihat dalam Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge…, p. 34-36.

[24]  Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge…, p. 40-41.

[25]  Ibid. p. 45

[26]  Ibid. p. 48.

[27]  Ziaudin Sardar, Jihad Intelektual, (Surabaya: Risalah Gusti, 1998), p. 44.

[28]  Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge…, p. 28.

[29]  Ilmu warisan Islam harus dikuasai dengan cara yang sama. Tetapi disini, apa yang diperlukan adalah antologi-antologi mengenai warisan pemikir muslim yang berkaitan dengan disiplin ilmu.

[30]  Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge…, p. 39-46. Tentang buku islamisasi ini juga dapat dilihat dalam edisi bahasa Indonesia, khusus tentang Rencana Kerja Proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan dapat dilihat pada bab IV, Ismail Raji al-Faruqi, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terj. Anas Mahyuddin (Bandung: Penerbit Pustaka, 1984), p. 98-121.

makalah pengembangan pemikiran pendidikan islam di indonesia

MAKALAH

Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia

Disusun guna memenuhi tugas indifidual mata kuliah “Filsafat Pendidikan Islam” yang diampu olehBapak Drs. H. Zainuddin Bukhori. M.Ag.

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Ali Imron Wahid

152111579

 

Jurusan Tarbiyah

Fakultas Agama Islam

Universitas Islam Sultan Agung ( UNISSULA) Semarang

2012-2013

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya.Sehingga pada hari ini kita masih diberikan nikmat Iman, Islam  dan Ihsan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan atas junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang telah menuntun kita dari jaman jahiliyah (kebodohan) menuju jaman ilmiah (keilmuan).

Di dalam penulisan makalah ini penulis menyusun makalah yang berjudul ”Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia” yang dimana didalam pembahasan tersebut dibagi menjadi dua periode, yaitu: (1) Periode sebelum Indonesia merdeka, dan (2) periode Indonesia merdeka.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati.

 

Wabillahittaufiq  walhidayah 

Wassalamu’alaikkum Warrahmatullahi Wabaraakaatuh                                                              

Semarang, 28 Desember 2012

Penyusun,

Ali Imron Wahid

 


DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. 1

DAFTAR ISI. 2

BAB I. 3

PENDAHULUAN.. 3

A.         Latar Belakang. 3

BAB II. 3

PEMBAHASAN.. 3

A.        Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia. 3

1.      Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam pada Periode Sebelum Indonesia Merdeka (1900-menjelang 1945)  4

2.      PemikiranPendidikanpadaPeriodeSetelah Indonesia Merdeka. 6

BAB III. 7

PENUTUP. 7

Kesimpulan. 7

DAFTAR PUSTAKA.. 8

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.               Latar Belakang

Di masa pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia, yaitu mulai sebelum Indonesia merdeka sampai Indonesia merdeka, bangsa Indonesia khususnya para pemikir Indonesia mempunyai berbagai macam usaha-usaha yang bertujuan untuk memajukan pendidikan Islam di Indonesia, hasil dari usaha-usaha tersebut mengakibatkan bangsa Indonesia  mengalami berbagai macam perubahan-perubahan dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Di periode sebelum Indonesia merdeka mulailah muncul para tokoh-tokoh pemikir muslim Indonesia yang berperan dalam pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia. Dan di periode Indonesia merdeka, di dalam pendidikan dan pengajaranya menggunakan sistem dualistis, yaitu menggabungkan antara Sistem pendidikan pada sekolah-sekolah umum dengan sistem pendidikan pada masyarakat Islam sendiri.

Dengan demikian penulis menyusun tugas makalah filsafat pendidikan Islam yang berjudul pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam di Indonesia

Kajian tentang wacana pengembangan pendidikan Islam di Indonesia ini akan ditelaah dari segi historis sampai sosiologis, sekaligus dikemukakan wacana-wacana yang berkembang didalamnya. Dalam kajian historis, penulis hanya membatasi pada dua periode, yaitu periode sebelum Indonesia merdeka (1900-menjelang 1945) dan periode Indonesia merdeka (1945-sekarang).

Dari masing-masing periode tersebut diduga muncul berbagai problem dan isu-isu pendidikan Islam yang menonjol, yang pada giliranya menjadi diskursus bagi pengembangan pendidikan Islam terutama di kalangan para pemikir, pengembang, dan pengelola pendidikan Islam di Indonesia dari satu periode ke periode berikutnya.

1.     Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam pada Periode Sebelum Indonesia Merdeka (1900-menjelang 1945)

Pada awal abad 20 M, Pendidikan di Indonesia terpecah menjadi dua golongan, yaitu:  (1) pendidikan yang diberikan oleh sekolah- sekolah Barat yang sekuler yang tidak mengenal ajaran agama, dan (2) pendidikan yang diberikan oleh pondok pesantren yang hanya mengenal agama saja. Atau menurut Wirjosukarto (1985) pada periode tersebut terdapat dua corak pendidikan, yaitu corak corak lama yang berpusat pada pesantren dan corak baru dari perguruan (sekolah-sekolah) yang didirikan oleh pemerintah Belanda.

Wirjosukarto (1985) merinci ciri-ciri dari corak pendidikan tersebut, pertama corak lama adalah: (1) menyiapkan kiayi atau ulama’ yang hanya menguasai masalh agama semata; (2) kurang diberikan pengetahuan untuk mengetahui perjuangan hidup sehari-hari dan pengetahuan umum sama sekali tidak diberikan; (3) sikap isolasi yang disebabkan karena sikap non kooperasi secara total dari pihak pesantren terhadap apa saja yang berbau Barat, dan aliran kebangunan Islam tidak leluasa untuk bisa masuk karena dihalang-halangi oleh pemerintah Belanda. Sedangkan ciriciri corak baru adalah: (1) hanya menonjolkan intelek dan sekaligus hendak melahirkan golongan intelek; (2) pada umumnya bersikap negatif terhadap agama Islam; (3) alam pikiranya terasing dari kehidupan bangsanya.

Dari uraian diatas dapat ditegaskan bahwa disamping kedua corak pendidikan tersebut diatas, juga terdapat corak pendidikan ketiga yang merupakan sintesa dari corak lama dan corak baru. Ia berusaha memasukkan pendidikan umum pada sekolah agama dan memasukkan pendidikan agama pada sekolah umum.

Corak pendidikan ketiga (sintesis), muncul bersamaan dengan munculnya Madrasah-madresah berkelasya yang muncul sejak tahun 1909. Menurut penelitian Mahmud Yunus, bahwa pendidikan Islam yang mula-mula berkelas dan memakai bangku, meja dan papan tulis, ialah Madrasah Adabiyah di Padang. Inilah Madrasah yang pertama kali di Minangkabau, bahkan di seluruh Indonesiam yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Adabiyah ini hidup sebagai Madrasah sampai tahun 1914, kemudian diubah menjadi HIS Adabiyah pada tahun 1915 yang merupakan HIS pertama di Minangkabau yang memasukkan pelajaran agama rencana pelajarannya.

Tokoh lain dalam pembaharuan pendidikan Islam di Minangkabau adalah Zainiddin Lebay el-Yunusiy (1890-1924), yang mendirikan Madrasah Diniyah pada tahun 1915 di Padang Panjang dengan sistem klasikal  dengan susunan  pelajaran yang terdiri atas ilmu-ilmu agama dan bahasa arab, ditambah dengan akhlak dan ilmu-ilmu umum, terutama sejarah dan ilmu bumi.

Menurut penelitian Maksum (1999), Madrasah Diniyah tersebut merupakan bentuk pendidikan yang sejalan dengan pola yang ditawarkan oleh gerakan pembaharuan di Timur Tengah, dan secara umum materi dan corak pendidikanya lebih bersifat Islami. Berbeda denga Madrasah Adabiyah, yang lebih merupakan sekolah Belanda yang ditambah dengan materi pendidikan agama.

Adapun tokoh yang memiliki pola yang senada dengan kegiatan yang dilakukan oleh Abdullah Ahmad di Padang adalah K.H.Ahmad Dahlan (1868-1923 M) ,yang pada tanggal 18 November 1912 mendirikan organisasi  Muhammadiyah bersama dengan teman-temanya di kota Yogyakata. Dikatakan senada terutama jika dilihat dari tiga hal, yaitu: (1) kegiatan tablidh, yaitu mengajarkan agama kepada kelompok orang dewasa dalam satu kursus yang teratur; (2) mendirikan sekolah swasta menurut model pendidikan gubernemen dengan ditambah beberapa pelajaran agama perminggu; (3) untuk membentuk kadernisasi guru-guru agama.

Di samping itu, terdapat tokoh lain yang berperan dalam pembaharuan pendidikan Islam di Jawa, yaitu KH. Hasyim Asy’ari, yang telah memperkenalkan pola pendidikan Madrasah di lingkungan pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur. Pesantren ini didirikan pada tahun 1899 yang pengajaranya lebih menitikberatkan pada ilmu-ilmu agama dan bahasa arab dengan sistem sorogan dan bandungan. Pada 1919 sistem pengajaranya mengalami pembaruan yang mulanya menggunakan sistem sorogan dan bandungan ditingkatkan dengan menggunakan sistem klasikal yang dikenal dengan madrasah.

Dari berbagai uraian tersebut diatas dapat ditegaskan bahwa pada periode sebelum Indonesia merdeka terdapat berbagai corak pengembangan pendidikan Islam, yaitu:

  1. Isolatif-Tradisional, dalam arti tidak mau menerima apa-apa yang berbau Barat (kolonial) dan terhambatnya pengaruh pemikiran-pemikiran modern dalam Islam untuk masuk kedalamnya.
  2. Sintesis, yakni mempertemukan antara corak lama (pondok pesantren) dan corak baru (model pendidikan kolonial/Barat) yang berwujut sekolah atau Madrasah.

 

 

 

2.     PemikiranPendidikanpadaPeriodeSetelah Indonesia Merdeka

Pada awal masa kemerdekaan, pemerintah dan bangsa Indonesia mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran yang dualistis, yaitu: (1)sistem pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah umum yang sekuler, tak mengenal ajaran agama, yang merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda; dan (2) sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang tumbuh dan berkembang dikalangan masyarakat Islam sendiri, baik yang bercorak isolatif-tradisional maupun yang bercorak sintesis dengan berbagai variasi pola pendidikanya sebagaimana uraian tersebut diatas.

Kedua sistem pendidikan tersebut sering dianggap saling bertentangan serta tumbuh dan berkembang secara terpisah satu sama lain. Sistem pendidikan dan pengajaran yang pertama pada mulanya hanya menjangkau dan dinikmati oleh sebagian kalangan masyarakat, terutama kalangan atas saja. Sedangkan yang ke dua sistem pendidikan dan pengajaran Islam tumbuh dan berkembang secara mandiri di kalangan rakyat dan berurat berakar dalam masyarakat. Hal ini diakui oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) dalam usul rekomendasinya yang disampaikan kepada pemerintah, tentang Rencana Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran Baru, pada tanggal 29 Desember 1945.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

1.  Pemikiran pendidikan Islam di Indonesia dikelompokkan menjadi dua periode, yaitu:  1) periode sebelum Indonesia merdeka, dan

2) periode Indonesia merdeka.

2. Corak-corak pemikiran pendidikan Islam sebelum Indonesia merdeka  meliputi:              a.  Corak lama

b.  Corak baru

c.  Corak Sintesis

3. Tokoh yang berperan di dalam pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia, diantaranya:

1.   Zainuddin Labay El-Yunusi

2.   KH. Ahmad Dahlan

3.  KH. Hasyim Asy’ari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Muhaimin, 2004, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Surabaya: Pustaka Pelajar.

Susanto, A, 2009, Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah.

Ihsan, Hamdani, 1998, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung :  CV Pustaka Setia.

 

 

pokok ajaran ilmu tasawuf

Pokok-Pokok Ajaran Tasawuf  Pada dasarnya, ajaran Tasawuf merupakan bimbingan jiwa agar menjadi suci, selalu tertambat pada Allah dan Tasawuf  menjauhkan dari pengaruh-pengaruh selain Allah. Kemudian dengan Tasawuf  maka terbukalah hijab yang menutupinya.

Tingkatan Kwalitas jiwa keimanan, yang meliputi:

  1. Maqom Taubat ( arabic: التوبة ), yaitu meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan demi menjunjung ajaran Allah dan menyingkiri murka-Nya ( Imam al- Ghozali).
  2. Maqom Waro’, menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, dalam rangka menjunjung tinggi perintah Allah, menurut Syaikh Ibrahim Adham.  Waro’ adalah meninggalkan setiap yang syubhat (tidak jelas halal atau haramnya),  Waro’ Lahiriyah: meninggalkan seluruh perbuatan kecuali  perbuatan yang karena Allah,  Waro’ Batiniyah: sikap hati yang tidak menerima selain Allah
  3. Maqom Zuhud ( زاهد ), lepasnya pandangan keduniawian dan usaha memperoleh keduniawian dari seorang yang sebenarnya mampu untuk memperolehnya.
  4. Maqom Shobar ( الصبر ), ketabahan dalam menghadapi dorongan hawa nafsu (Imam al-Ghozali), Syaikh Dzun Nun al-Misri mengatakan: Shobar adalah menjauhkan diri dari perbuatan yang melanggar agama, tabah dan tenang dalam menghadapi cobaan, dan menampakkan hidup lapang dalam mengalami kemelaratan.
  5. Maqom Faqir ( فقير ), Tenang dan tabah diwaktu susah dan memprioritaskan orang lain di kala sedang  berada ( Syaikh Abu Hasan al-Nuruy).  Syaikh Ibrohim al-Khawwash, mengatakan Faqir adalah selendang orang-orang mulia, pakaian para Rosul dan baju kurung kaum Sholikhah.
  6. Maqom Syukur ( شكر ), pengakuan terhadap kenikmatan, tindakan badan untuk mengabdi kepada Allah dan ketetapan hati untuk selalu menyingkiri yang haram, Syaikh Abul Qasim mengatakan, “Hakikat syukur adalah tidak menggunakan kenikmatan untuk maksiat, tidak segan-segan menggunakannya untuk taat sedang batasan syukur adalah mengetahui bahwa kenikmatan itu datangnya dari Allah Ta’ala.
  7. Maqom Khauf, Rasa ketakutan dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah, Syaik Abul Hasan al-Nury, berpendapat “orang yang Khauf adalah yang lari dalam ketakutan dari Allah untuk menuju kepada Allah”.
  8. Maqom Roja’, Rasa gembira hati karena mengetahui adanya kemurahan dari dzat yang menjadi tumpuan harapannya, Syaikh Abu Ali, berkata: “Khauf dan Roja’ adalah ibarat dua belah sayap burung, jika seimbang keduanya, maka terbang nya burung menjadi sempurna, jika kurang salah satunya, maka terbangnya tidak sempurna, dan jika hilang keduanya, maka burung jatuh dan menemui kematiannya.
  9. Maqom Tawakal, sikap hati yang bergantung pada Allah dalam menghadapi sesuatu yang disukai, dibenci, diharapkan atau ditakuti kalau terjadi dan bukan menggantungkannya pada suatu sebab, sebab satu-satunya adalah Allah(al-Muhasibi). Syaikh Sahl berpendapat, “Jenjang pertama kali dalam Tawakal adalah hendaknya hamba dihadapan Allah bersikap sebagaimana mayat dihadapan orangyang merawatnya, dibalik kesana kemari diam saja.”
  10. Maqom Ridho, Rasa puas hati dalam menerima nasib yang pahit (Abul Hassan al-Nuri), Rabi’ah Adawiyah menjelaskan, sewaktu ditanya bagaimana seorang hamba bisa dikatakan Ridlo, Jawabnya: “Apabila ia senang dalam menghadapi musibah sebagaimana ia senang dalam menerima nikmat. Syaikh Yahya bin Mu’arif, ketika ditanya, “Kapan seorang mencapai Maqom Ridho?” beliau menjawab: “Jika diberi mau menerima, jika ditolak ia rela, jika ditinggalkan ia tetap mengabdi dan jika diajak ia menuruti.”

AKHLAKI, FALSAFI DAN IRFANI

A. Tasawuf Akhlaki (Tasawuf Sunni)

Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak’ mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan menuasia yang dapat ma’rifah kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaki, biasa disebut juga dengan istilah tasawuf sunni. Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ulama salaf as-salih.

Dalam diri manusia ada potensi untuk menjadibaik dan potensi untuk menjadi buruk. Potensi untuk menjadi baik adalah al-‘Aql dan al-Qalb. Sementara potensi untuk menjadi buruk adalah an-Nafs. (nafsu) yang dibantu oleh syaithan.

Sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an, surat as-Syams : 7-8 sebagai berikut :

<§øÿtRur $tBur $yg1§qy™ ÇÐÈ $ygyJolù;r’sù $ydu‘qègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ

Artinya : “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.

Para sufi yang mengembangkan taswuf akhlaki antara lain : Hasan al-Basri (21 H – 110 H), al-Muhasibi (165 H – 243 H), al-Qusyairi (376 H – 465 H), Syaikh al-Islam Sultan al-Aulia Abdul Qadir al-Jilani (470 – 561 H), Hujjatul Islam Abu Hamid al-Gajali (450 H – 505 H), Ibnu Atoilah as-Sakandari dan lain-lain.

B. Tasawuf Falsafi

Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada keterpaduan teori-teori tasawuf dan falsafah. Tasawuf falsafi ini tentu saja dikembangkan oleh para sufi yang filosof.

Ibnu Khaldun berendapat bahwa objek utama yang menjadi perhatian tasawuf falsafi ada empat perkara. Keempat perkara itu adalah sebagai berikut:

1. Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta intropeksi diri yang timbul dari dirinya.
2. Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat rabbani, ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang nampak, dan susunan yang kosmos, terutama tentang penciptanya serta penciptaannya.
3. Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
4. Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syatahiyyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui atau menginterpretasikannya.

Tokoh-tokoh penting yang termasuk kelompok sufi falsafi antara lain adalah al-Hallaj (244 – 309 H/ 858 – 922 M) Ibnu’ Arabi (560 H – 638 H) al-Jili (767 H – 805 H), Ibnu Sab’in (lahir tahun 614 H) as-Sukhrawardi dan yang lainnya.

C. Tasawuf ‘Irfani

Tasawuf ‘Irfani adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran atau ma’rifah diperoleh dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau pemikiran tetapi melalui pemebirian Tuhan (mauhibah). Ilmu itu diperoleh karena si sufi berupaya melakukan tasfiyat al-Qalb. Dengan hati yang suci seseorang dapat berdialog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan atau ma’rifah dimasukkan Allah ke dalam hatinya, hakikat kebenaran tersingkap lewat ilham (intuisi).

Tokoh-tokoh yang mengembangkan tasawuf ‘irfani antara lain : Rabi’ah al-Adawiyah (96 – 185 H), Dzunnun al-Misri (180 H – 246 H), Junaidi al-Bagdadi (W. 297 H), Abu Yazid al-Bustami (200 H – 261 H), Jalaluddin Rumi, Ibnu ‘Arabi, Abu Bakar as-Syibli, Syaikh Abu Hasan al-Khurqani, ‘Ain al-Qudhat al-Hamdani, Syaikh Najmuddin al-Kubra dan lain-lainnya. Isi Pokok Ajaran Tasawuf

Tasawuf Islam: Berikut ini pokok-pokok ajaran tasawuf dalam struktur
yang umum dan global, serta singkat. Tujuan pembuatan tulisan ini adalah
supaya tergambar secara menyeluruh dan terstruktur ajaran-ajaran kaum sufi.
Memang dalam beberapa bagiannya ada ajaran-ajaran yang cukup
kontroversial. Untuk itu perlu pembahasan lebih lanjut. Insya Allah
selanjutnya akan lebih dibahas secara detail tiap-tiap ajaran tersebut.

1. Tasawuf Akhlaqi
o Takhalli: membersihkan diri dari sifat2 tercela
o Tahalli: mengisi diri dengan sifat2 terpuji
o Tajalli: terungkapnya nur gaib untuk hati

a. Munajat: melaporkan aktivitas diri pada Allah
b. Muraqabah dan muhasabah: selalu memperhatikan dan
diperhatikan Allah dan menghitung amal
c. Memperbanyak wirid dan zikr
d. Mengingat mati
e. Tafakkur: merenung/meditasi

2. Tasawuf ‘Amali
a. Beberapa Istilah praktis
1. Syari’ah: mengikuti hukum agama
2. Thariqah: perjalanan menuju Allah
3. Haqiqah: aspek batiah dari syari’ah
4. Ma’rifah: pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati
b. Jalan Mendekatkan diri kepada Allah
1. Maqamat: tahapan, tingkatan
a. Taubah: pembersihan diri dari dosa
b. Zuhd: sederhana dalam hal duniawi
c. Sabr: pengendalian diri
d. Tawakal: berserah diri sepenuhnya kepada Allah
e. Ridha: menerima qada dan qadar dengan rela
f. Mahabah: cinta kepada Allah
g. Ma’rifah: mengenal keesaan Tuhan
2. Ahwal: kondisi mental
a. Khauf: merasa takut kepada Allah
b. Raja': optimis terhadap karunia Allah
c. Syauq: rindu pada Allah
d. Uns: keterpusatan hanya kepada Allah
e. Yaqin: mantapnya pengetahuan tentang Allah

3. Tasawuf Falsafi
a. Fana’ dan Baqa': lenyapnya kesadaran dan kekal
b. Ittihad: persatuan antara manusia dengan Tuhan
c. Hulul: penyatuan sifat ketuhanan dg sifat kemanusiaan
d. Wahdah al-Wujud: alam dan Allah adalah sesuatu yang satu
e. Isyraq: pancaran cahaya atau iluminasi

TASAWWUF FALSAFI

A. Devinisi tasawwuf falsafi

Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional.Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya,yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telahmempengaruhi para tokohnya.[1]

Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (العملي ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري ) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujudkecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalahAllah. Mereketidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yangbersemayam diatas Arsy.Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya,setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur beserta para tokohnya yaitu ; hulul,wadah al~wujud, insan kamil, Wujud Mutlak.

Pendahuluan

Tasawuf ada beberapa aliran, seperti tasawuf Akhlaqi, tasawuf Sunni dan tasawuf Falsafi. Adapula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf ‘Amali, tasawuf Falsafi dan tasawuf ‘Ilmi.[1] Akan tetapi dalam makalah kecil ini hanya akan dibahas secara lebih fokus tentang tasawuf Falsafi saja.

Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya, yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[2]

 

 

Beberapa Konsep Tasawuf Falsafi Tentang Tuhan

Pantheisme, adalah ide dasar dari tasawuf falsafi. Pantheisme berasal dari kata yunani, yaitu pan yang berarti semua dan theos yang berarti Tuhan. Jadi pantheisme adalah  paham  yang menganggap Tuhan adalah immanen [ada di dalam] makhluk~makhluk. Dengan kata lain Tuhan dan alam adalah sama.[3]

Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalah Allah. Mereketidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy.[4] Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya, setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur yaitu ; hulul, wadah al~wujud dan ittihad.

 

1. Hulul

Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf falsafi yang meyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk. Paham hulul ini disusun oleh Al-hallaj. Didalam sufi termonologi disebutkan ;

Hulul is incarnation this word implies the indwelling of the divine in man which is the entering of one thing into another. Incarnation is considered to be heretical doctrines. They hafe been comdemnedby the man of Allah, those who know that “the slave remains the slave and the lord remains the lord” no mather how close they are to each other “he who islost in Allah, is not Allah himself. The hululis are doctrine of “incarnation”.[5]

 

Kata hulul berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan kedalam diri manusia atau masuk suatu dzat kedalam dzat yang lainnya. Hulul adalah doktrin yang sangat menyimpang. Hulul ini telah disalah artikan oleh manusia yang telah mengaku bersatu dengan Tuhan. Sehangga dikatakan bahwa seorang budak tetaplah seorang budak dan seorang raja tetaplah seorang raja. Tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya sehingga yang terjadi adalah hanyalah Allah yang mengetahui Allah dan hanya Allah yang dapat melihat Allah dan hanya Allah yang menyembah Allah.

Sebagai salah satu bentuk tasawuf falsafi, paham hulul memiliki landasan filosofis tertentu sebagai tempat pijakannya. Tuhan menurut pandangan Al-Hallaj adalah yang Maha Cinta dan Maha Kasih, dan cinta kasih terhadap dirinya sendiri menjadi menjadi sebab adanya semua makhluk, termasuk bani Adam adalah sebagai jelmaan Tuhan yang menciptakan semua makhluk-makhluknya itu….Atas dasar inilah kemudian Al-Hallaj meyakini bahwa dalam diri Tuhan ada sifat kemanusiaan yang disebut Nasut, dan pada manusia terdapat sifat Tuhan yang disebut Lahut. Dengan demikian pada dasarnya Al-Hallaj mengakui adanya dualisme, yaitu Tuhan memiliki sifat Lahut sekaligus sifat Nasut (sifat kemanusiaan). Begitu pula manusia memiliki sifat Nasut sekaligus memiliki pula sifat Lahut (sifat keTuhanan)…Dengan kerangka berfikir tersebut maka persatua antara makhluk dengan khaliq dapat terjadi.[6]

Beberepa ungkapan Al-Hallaj yang terdapat makna Hulul adalah sebagai berikut: Al-Hallaj pernah ditanya” Siapakah anda?, ia menjawab ‘aku adalah Allah”.[7]

Diantara sya’ir Al-Hallaj yang terkenal adalah sebagai berikut:

Aku adalah Allah

Dan aku benar-benar Allah

Aku menyandang Dzat-Nya

Hingga tiada beda antara aku dengan-Nya[8]

 

Aku adalah orang yang menitis

Dan yang menitis itu adalah aku

Kami adalah dua ruh yang menempati satu jasad

Ruh-Nya adalah ruhku

Dan ruhku adalah ruh-Nya

Siapakah yang melihat dua ruh

Yang menempati satu jasad[9]

 

Gejala pemikiran Al-Hallaj yang berupa hulul sehingga terucap dalam ungkapan-ungkapannya tersebut diatas telah ada tanda-tandanya sejak ia melaksanakan ibadah haji pertama kali ke Makkah…Ketika melaksanakan haji ia berjanji pada dirinya akan menyelesaikan umrah selama satu tahun di Masjidil Haram dengan berpuasa dan berzdikir. Pada kesempatan ini Al-Hallaj berusaha menurut caranya sendiri untuk menyatu dengan Allah SWT., dan mulai sejak itu pula Al-Hallaj menyerukan konsep hululnya itu.[10]

2. Wahdah Al-wujud

Istilah wahdah Al-wujud sangat dekat dengan pribadi Ibnu Arabi, sehingga ketika menyebut pemikiran Ibnu Arabi seakan-akan terlintas tentang doktrin wahdah Al-wujud. Oleh karena itu dalam sub bab ini akan difokuskan pada teori Ibnu Arabi.

Wahdah Al-wujud this tem carries different meanings. It may indicate the unity of existence and the oneness of  being and the oneness of finding. At the end of the peth only Allah is found. This is the unity of existence, the oneness of being, the oneness of finding.[11]

 

Wahdah Al-wujud dapat berarti; penyatuan eksistensi atau penyatuan dzat. Sehingga yang ada atau segala yang wujud adalah Tuhan [Tuhan telah bersatu dengan alam\segala sesuatu].

Wahdah Al-wujud adalah faham yang disusun oleh Ibnu Arabi. Aliran ini pada dasarnya berlandaskan pada perasaan, sebagaimana Ibnu Arabi pernah berkata;”maha suci dzat yang menciptakan segala sesuatu dan dia adalah sesuatu itu”.[12]

Dalam mengomentari pernyataan tersebut, harun nasution mengatakan bahwa Wahdah Al-wujud berarti kesatuan wujud, unity of  existence. Faham ini adalah kelanjutan dari faham hulul yang dibawa oleh muhyiddin Ibnu Arabi.[13] Dalam teori tentang wujud, Ibnu Arabi mempercayai terjadinya  emanasi, yaitu Allah menampakkan sesuatu dari wujud materi…….berikut ini adalah beberapa pernyataan Ibnu Arabi yang mengandung  ide wahdah al-wujud.[14]

?????? ??? ??? ??? ???? ??? ?? ?????? ??? ????

“….wujud tidak lain adalah dari al-haq karena tidak ada sesuatu yang berwujud kecuali dia”,

??? ??? ?? ?????? ??????? ??? ???? ??????? ?????

“tiada yang tampak dalam wujud melalui wujud kecuali al-haq, karena wujud itu adalah al-haq…..”

 

Pernyataan-pernyataan Ibnu Arabi diatas menunjukan bahwa semua yang tampak, yang ada di alam semesta ini bukanlah wujud yang hakiki, bukanlah wujud yang independent, akan tetapi alam semesta iniadalah sebagai perwujudan dari wujud Allah, karena bagi Ibnu Arabi yang berwujud hanyalah kholiq.

Dalam teori wahdah  al-wujud ini, jika diri Allah terdapat wujud yang setera  hal itu akan menimbulkan dualitas wujud. Dan hal itu akan membawa pada kesyirikan. Bagi yang meyakini faham wahdah al-wujud, semua yang ada di alam semesta inisesungguhnya hanyalah sebuah ilusi atau bayangan yang ditangkap oleh indra manusia, dimana manusia itu juga merupakan ilusi.

Pemahaman tersebut diatas ibarat seseorang yang melihat bayangannyadalam cermin. Gambar yang terlihat dalam cermin itu meskipun ada dan tampak jelas, namun sebenarnya ia hanyalah ilusi atau bayangan dari orang yang bercermin tersebut. Dan apabila seseorang bercermindengan menggunakan beberapa cermin, maka bayangannya orang yang bercermin itupun menjadi banyak. Padahal hakikatnya adalah satu. Hal ini sebagaimana di jelaskan didalam fusush Al-hikmah ;

??? ????? ??? ???? ??? ??? ?????? ?????? ??????? ?????

“wajah sebenarnya satu, tetapi jika engkau perbanyak cermin maka ia akan menjadi banyak”.[15]

 

Dari uraian diatas  dapat disimpulkan bahwa teori wahdah Al-wujud, yang dipelopori oleh Ibnu Arabi adalah faham yang meyakini tidak ada yang wujud kecuali Tuhan yang Esa, sedangkan alam semesta hanyalah bayangan dari Tuhan. Dengan kata lain antara kholiq dengan makhluk adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Konsep wahdah Al-wujud dari Ibnu Arabi ini ditentang oleh Ibnu Taimiyah dengan ungkapan nya; “Ibnu Arabi berkeyakinan bahwa wujud hanyalah satu, wujud alam adalah wujud Allah, wujud makhluk adalah wujud kholiq dan segala sesuatu adalah perwujudan-Nya. Oleh karena itu ia zindiq.[16]

Adalah tepat yang dikemukakan oleh ibnu taimiyah diatas, sebab Rasululloh SAW. Tidak pernah mengajarkan bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah, akan tetapi beliau menyerukan bahwa tidak ada Tuhan [yang berhak diibadahi]kecuali Allah.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasululloh SAW. Dari ibnu umar r,a sebagai berikut;

“aku diutus untuk memerangi manusia sampai mereka mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, dan mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat, maka apabila mereka mengerjakan itu, terpelihara dari padaku darah dan harta mereka, kecuali menurut hukumislam dan perhitungan amal mereka terserah kepada Allah SWT.”.[HR.Bukhari-Muslim][17]

 

Hadist ini secara jelas menjelaskan bahwa Rasululloh sSAW. Mewajibkan seorang hamba Allah bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia [laailaha illalahi] dan bukan tidak ada yanh wujud kecuali Allah [laa wujuda illalah].

 

3. Ittihad

Pengertian ittihad sebagaimana disebutkan dalam sufi terminologi adalah;;

Ittihad is unificatioisme or the coming together of two thinhs. Ittihad is considered to be an heretical doctrine in that it presupposes the existence of two independent beings, and this is in contradictionto the concept of oneness of  being [wahdah al-wujud]. When taken to mean “union” then itthad is used in the sense that things are non-existence is Allah’s. it may also refer to the experience of oneness whith Allah.

 

Ittihad adalah penggabungan antara dua hal yang menjadi satu. Ittihad merupakan doktrin yang menyimpang dimana didalamnya terjadi proses pemaksaan antara dua ekssistensi. Kata ini berasal dari kata wahd atau wahdah yang berarti satu atau tunggal. Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan Tuhan.

Tokoh pembawa faham ittihad adalah Abu Yazid Al-busthami. Menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi, oleh karena itu manusia hilang kesadaranya [sebagai manusia] maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya, yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan.[18]

Ketika Abu Yazid sedang dalam keadaan ittihad, ia berkata ;”Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain aku. Karena itu sembahlah aku. Maha suci aku, maha besar aku, aku keluar dari diri Abu Yazid sebagaimana ular keluar dari kulitnya. Tampaknya olehku bahwa sang pecinta  [al-Asyiq] dan yang dicinta [al-ma'syu] serta cinta [al-isyq] adalah satu kesatuan”.[19]

 

Dalam ungkapan yang lain Abu Yazid berkata ; “maha suci aku, maha suci aku, alangkah maha agungnya aku “.[20]

 

Dan ia beliau pula di waktu yang lain ;

“Pernah Tuhan mengangkat aku dan ditegakkannya aku dihadapan-Nya sendiri. Maka berkatalah Dia kepadaku ; ” hai Abu Yazid! Makhluk-ku ingin melihat engkau. Lalu aku berkata : Hiasilah aku dengan wahdaniat-Mu, pakaikanlah kepadaku pakaian ke-akuan-Mu, angkatlah aku kedalam ke-satuan-mu. Sehingga apabila makhluk-Mu melihat aku. Mereka akan berkata ;Kami telah melihat engkau. Maka Engkaulah itu dan aku tidak ada disana”.[21]

 

Itulah kaum sufi falsafi, mereka meyakini bahwasannya alam semesta ini hanyalah bayangan fatamorgana dan biasan dari zat Allah. Semua yang ada ini adalah wujud Allah, jelmaan Allah. Sehingga bagi mereka [kaum sufi falsafi] manusia, jin, pepohonan, bebatuan, cacing, hewan melata, burung-burung, atau bahkan anjing dan babipun, semuanya adalah jelmaan Allah.

 

Analisa kritik terhadap pantheisme

 

Didalam kritik ini akan dikomparasikan antar pendapat-pendapat dan perkataan para tokoh sufi falsafi dengan Ayat-ayat Al-qur’an dan pendapat para ulama salafush-shalih, apakah sesuai atau tidak sesuai sehigga dapat diambil sebuah kesimpulan tentang pendapat kaum sufi falsafi tersebut.

Pantheisme yang diyakini oleh kaum sufi falsafi adalah bertolak belakang dengan firman Allah SWT. Yang telah menetapkan bagi diri-Nya itu tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Allah berfirman;

??? ????? ??? ??? ?????? ?????? (??????: 11 )

“Tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Dan Dialah yang maha mendengar dan maha melihat”.[QS  Asy-syura ; 11]

Ibnu Katsir dalam mentafsirkan ayat ini menyebutkan bahwa tidak ada yang serupa dengan dia dalam penciptaan dan sifat-Nya yang maha tinggi. Dan Allah SWT. Adalah zat yang tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya.

Mujahid mengatakan tidak ada sesuatupun tandingan dari makhlik-Nya yang akan menyaingi-Nya atau yang mendekati-Nya.

Perkataan Abu Yazid ; “Aku adalah Allah……”adalah sebuah ungkapan syirik akbar[22] yang nyata (tidak membutuhkan pemikiran yang mendalam bagi akal sehat atas kesyirikan perkataan tersebut).

Perkataan yang menganggap bahwa “segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah Allah” adalah bertentangan dengan salah satu ayat:

??????? ???? ???? ??? ??? ?????? (??????? : 191 )

“Patutkah mereka berbuat syirik [dengan menyembah kepada selain Allah] yang tidak dapat menciptakan apa-apa ? padahal sesuatu selain Allah itu adalah ciptaan-Nya”[QS Al-a’raf [7] : 191 ]

Kaum tasawuf falsafi dalam usahanya mengenal Allah SWT. lebih mengedepankan pendapat akal dan dengan mengesampingkan nash-nash yang shahih. Hal ini sangat memungkinkan untuk terjadinya kesalahan dan menyimpang dari yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya SAW. didalam Al-qur’an dan as-sunnah.

Disamping itu pula, didalam konsep tasawuf  falsafi lebih mengutamakan Riyadhoh Rohaniyah sampai mencapai fana’[23] sehingga mengenal  Allah diluarkesadaran mereka. Dan sudah pasti, mengenali sesuatu, terlebih lagi mengenal Allah di luar alam sadar maka akan tersesat.

Konsep Al-ittihd. Al-hulul dah wahdah Al-wujud jika dipandang dari sudut ilmu tauhid maka termasuk syirik. Karena ketiga konsep tersebut mensekutukan sesuatudengan Allah SWT. dikatakan zat diri telah bersatu dengan wujud Tuhan, atau jiwa telah tenggelam, lebur menjadi satu kedalam hadhirat Tuhan atau bahkan alam semesta adalah jelmaan Tuhan. Ininjelas kesyirikan yang nyata.

Menurut aqidah islamiyah yang murni, Tuhan adalah maha Esa, bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna, tidak dapat disekutui oleh sesuatupun. Zat,  sifat dan perbuatan Allah adalah maha Esa, tidak menerima persekutuan. Jika Allah dapat bersatu dengan manusia atau alam semesta sebagaimana anggapan dan keyakinan dalam tasawuf falsafi, maka berarti hilanglah ke-maha  Esaan-Nya, dan ini adalah mustahil bagi Allah SWT.

Allah semata-mata berlainan denga dunia real ini secara hakiki. Ia adalh pencipta makhluk. Antara Tuhan dan makhluk adalah berbeda.

Oleh sebab itu, bagaimana kedudukan Al-qur’an dan As-sunnah, jika konsep ini dibiarkan berkembang didalam Islam? Kafir disamakan dengan mukmin, fasik sama dengan taat dan bahkan hewanpun sama hakikaynya dengan Tuhan. Sungguh sangat berbahaya ketiga konsep tersebut bagi umat islam dan benar-benar sesat-menyesatkan. Ketiga konsep tersebut adalah merupakan aliran filsafat yang berasal dari agama hindu yang dimasukkan kedalam tasawuf, guna merusak Islam dari dalam.

Amat berbahaya jika kaum muslimin memandang bahwa konsep ittihad, hulul dan wahdah Al-wujud sebagai metode mendekatkan diri kepada Tuhan.[24]

Oleh karena itu Rasulullah Saw diutus ke dunia ini untuk menghancurkan  keyakinan-keyakinan semacam itu [anggapan bahwa Allah bersekutu dengan makhluk ciptaan-Nya] dan meluruskannya dengan tauhid  la ilaaha illallah, Tiada  Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

 

Penutup

Dari awal terjadinya manusia sampai hari ini tidaklah punah kemusyrikan. Kemusyrikan apapun bentuknya adalah sebuah kezhaliman yang paling zhalim, Innasy-syirka lazhulmun ‘azhim. Tasawuf falsafi yang meyakini atas bersatunya makhluk dengan khaliq, menyamakan Tuhan dengan alam semesta dengan konsepnya pantheisme adalah merupakan tindakan keji. Adakah kekejian yang lebih tinggi lagi dari pada kekejian orang yang menganggap dirinya adalah Tuhan atau bisa bersatu dengan Tuhan!

Begitulah sampai hari ini pemahaman-pemahaman yang menyimpang dan keji ini berkembang dengan berbagai model, ada yang berkedok liberal, nabi-nabi palsu, kerajaan Tuhan, dan lain-lain serta bentuk gerakan yang teratur dan biaya yang cukup, tentunya tidaklah kita hanya cukup diam.


maqomat dan al ahwal

Sufiroad : Maqomat dan Ahwal

  1. A.   Pengertian Maqamat

“Maqamat dan Ahwal” adalah dua kata kunci yang menjadi icon untuk dapat mengakses lebih khusus ke dalam inti dari sufisme, yang pertama berupa tahapan-tahapan yang mesti dilalui oleh calon sufi untuk mencapai tujuan tertinggi, berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan, dan yang kedua merupakan pengalaman mental sufi ketika menjelajah maqamat. Dua kata ‘maqamat dan ahwal’ dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang selalu berpasangan. Namun urutannya tidak selalu sama antara sufi satu dengan yang lainnya.
Maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang secara etimologi berarti tingkatan, posisi, stasiun, lokasi. Secara terminologi Maqamat bermakna kedudukan spiritual atau Maqamat adalah stasiun-stasiun yang harus dilewati oleh para pejalan spiritual (salik) sebelum bisa mencapai ujung perjalanan.[2] Istilah Maqamat sebenarnya dipahami berbeda oeh para sufi. Secara terminologis kata maqam dapat ditelusuri pengertiannya dari pendapat para sufi, yang masing-masing pendapatnya berbeda satu sama lain secara bahasa. Namun, secara substansi memiliki pemahaman yang hampir sama.

Menurut al-Qusyairi (w. 465 H) maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam rangka wushul (sampai) kepadaNya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Adapun pengertian maqam dalam pandangan al-Sarraj (w. 378 H) yaitu kedudukan atau tingkatan seorang hamba dihadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah.
Semakna dengan al-Qusyairi, al-Hujwiri (w. 465 H) menyatakan bahwa maqam adalah keberadaan seseorang di jalan Allah yang dipenuhi olehnya kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan maqam itu serta menjaganya hingga ia mencapai kesempurnaannya. Jika diperhatikan beberapa pendapat sufi diatas maka secara terminologis kesemuanya sepakat memahami Maqamat bermakna kedudukan seorang pejalan spiritual di hadapan Allah yang diperoleh melalui kerja keras beribadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan latihan-latihan spiritual sehingga pada akhirnya ia dapat mencapai kesempurnaan.[3]

Bentuk maqamat adalah pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan diperoleh seorang sufi melalui usaha-usaha tertentu; jalan panjang berisi tingkatan-tingkatan yang harus ditempuh oleh seorang sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Tasawuf memang bertujuan agar manusia (sufi) memperoleh hubungan langsung dengan Allah sehingga ia menyadari benar bahwa dirinya berada sedekat-dekatnya dengan Allah. Namun, seorang sufi tidak dapat begitu saja dekat dengan Allah. Ia harus menempuh jalan panjang yang berisi tingkatan-tingkatan (stages atau stations). Jumlah maqam yang harus dilalui oleh seorang sufi ternyata bersifat relatif. Artinya, antara satu sufi dengan yang lain mempunyai jumlah maqam yang berbeda. Ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat maqamat itu terkait erat dengan pengalaman sufi itu sendiri.
Ibn Qayyim al-Jauziyah (w. 750 H) berpendapat bahwa Maqamat terbagi kepada tiga tahapan. Yang pertama adalah kesadaran (yaqzah), kedua adalah tafkir (berpikir) dan yang ketiga adalah musyahadah.
Sedangkan menurut al-Sarraj Maqamat terdiri dari tujuh tingkatan yaitu taubat, wara’, zuhd, faqr, shabr, tawakkal dan ridha.[4]
Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabah – ma’rifat dan ridha.
At Thusi menjelaskan maqamat sebagai berikut : Al Taubat – Wara – Zuhud – faqir – sabar – ridha – tawakal – ma’rifat.
Al Kalabadhi (w. 990/5) didalam kitabnya “Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf” menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat – zuhud – sabar – faqir – dipercaya – tawadhu (rendah hati) – tawakal – ridho – mahabbah (cinta) -dan ma’rifat.

Jika kembali kepada sejarah, sebenarnya konsep tentang Maqamat dan ahwal telah ada pada masa-masa awal Islam. Tokoh pertama yang berbicara tentang konsep ini adalah Ali Ibn Abi Thalib. Ketika ia ditanya tentang iman ia menjawab bahwa iman dibangun atas empat hal: kesabaran, keyakinan, keadilan dan perjuangan. Akan tetapi, macam-macam maqamat yang akan dijadikan acuan dalam bahasan ini lebih mengarah pada konsep al-Sarraj.

B. Maqamat
Sebagaimana telah disebutkan diatas tingkatan-tingkatan (Maqamat) yang harus dilalui oleh seorang salik menurut masing-masing ahli sufi terdiri dari beberapa tahapan. Masing-masing ketujuh maqam ini mengarah ke peningkatan secara tertib dari satu maqam ke maqam berikutnya. Dan pada puncaknya akan tercapailah pembebasan hati dari segala ikatan dunia.[5] Adapun maqamat yang dimaksud diantaranya sebagai berikut:

Taubat
Dalam beberapa literatur ahli sufi ditemukan bahwa maqam pertama yang harus ditempuh oleh salik adalah taubat dan mayoritas ahli sufi sepakat dengan hal ini. Beberapa diantara mereka memandang bahwa taubat merupakan awal semua maqamat yang kedudukannya laksana pondasi sebuah bangunan. Tanpa pondasi bangunan tidak dapat berdiri dan tanpa taubat seseorang tidak akan dapat menyucikan jiwanya dan tidak akan dapat dekat dengan Allah. Dalam ajaran tasawuf konsep taubat dikembangkan dan memiliki berbagai macam pengertian. Secara literal taubat berarti “kembali”. Dalam perspektif tasawuf , taubat berarti kembali dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang, berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan kembali kepada Allah. Menurut para sufi dosa merupakan pemisah antara seorang hamba dan Allah karena dosa adalah sesuatu yang kotor, sedangkan Allah Maha Suci dan menyukai orang suci. Karena itu, jika seseorang ingin berada sedekat mungkin dengan Allah ia hrus membersihkan diri dari segala macam dosa dengan jalan tobat. Tobat ini merupakan tobat yang sebenarnya, yang tidak melakukan dosa lagi. Bahkan labih jauh lagi kaum sufi memahami tobat dengan lupa pada segala hal kecuali Allah. Tobat tidak dapat dilakukan hanya sekali, tetapi harus berkali-kali Dalam hal ini Dzu al-Nun al-Mishry membagi taubat pada dua bagian yaitu taubatnya orang awam dan orang khawas. Ia mengatakan:

توبة العوام من الذنوب وتوبة الخواص من الغفلة

Lebih lanjut al-Daqqaq membagi taubat dalam tiga tahap. Tahap pertama yaitu taubat kemudian inabah (kembali) dan tahap terakhir yaitu awbah. Menurut al-Sarraj tobat terbagi pada beberapa bagian. Pertama, taubatnya orang-orang yang berkehendak (Muridin), muta’arridhin, thalibin dan qashidin. Kedua, taubatnya ahli haqiqat (kaum khawwas). Pada bagian ini para ahli haqiqat tidak ingat lagi akan dosa-dosa mereka karena keagungan Allah telah memenuhi hati mereka dan mereka senantiasa berzikir kepadaNya. Ketiga, taubat ahli ma’rifat (khusus al-khusus). Adapun taubatnya ahli ma’rifat yaitu berpaling dari segala sesuatu selain Allah.

wara’
kata wara’ secara etimologi mengarah pada kata الكفِّ والانقباض yang berarti menghindari atau menjauhkan diri.[6] Dalam perspektif tasawuf wara’ bermakna menahan diri hal-hal yang sia-sia, yang haram dan hal-hal yang meragukan (syubhat). Hal ini sejalan dengan hadits nabi:

حدثنا أحمد بن نصر النيسابوري وغير واحد قالوا حدثنا أبو مسهر عن إسمعيل بن عبد الله بن سماعة عن الأوزاعي عن قرة عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه.[7]

“Diantara (tanda) kebaikan ke-Islaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak penting baginya”.

Adapun makna wara’ secara rinci adalah meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat berupa ucapan, penglihatan, pendengaran, perbuatan, ide atau aktivitas lain yang dilakukan seorang muslim.[8] Seorang salik hendaknya tidak hidup secara sembarangan, ia harus menjaga tingkah lakunya, berhati-hati jika berbicara dan memilih makanan dan minuman yang dikonsumsinya.

Zuhud
Kata zuhud banyak dijelaskan maknanya dalam berbagai literatur ilmu tasawuf. Karena zuhud merupakan salah satu persyaratan yang dimiliki oleh seorang sufi untuk mencapai langkah tertinggi dalam spiritualnya. Diantara makna kata zuhud adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh imam al-Gazali “mengurangi keinginan kepada dunia dan menjauh darinya dengan penuh kesadaran”, adapula yang mendefenisikannya dengan makna “berpalingnya hati dari kesenangan dunia dan tidak menginginkannya”[9], “kedudukan mulia yang merupakan dasar bagi keadaan yang diridhai”, serta “martabat tinggi yang merupakan langkah pertama bagi salik yang berkonsentrasi, ridha, dan tawakal kepada Allah SWT”. Menurut Haidar Bagir konsep zuhud diidentikkan dengan asketisme[10] yang dapat melahirkan konsep lain yaitu faqr. Menurut Abu Bakr Muhammad al- Warraq (w. 290/903 M ) kata zuhud mengandung tiga hal yang mesti ditinggalkan yaitu huruf z berarti zinah (perhiasan atau kehormatan), huruf h berarti hawa (keinginan), dan d menunjuk kepada dunia (materi). Dalam perspektif tasawuf, zuhud diartikan dengan kebencian hati terhadap hal ihwal keduniaan padahal terdapat kesempatan untuk meraihnya hanya karena semata-mata taat dan mengharapkan ridha Allah SWT.

Menurut Syaikh Syihabuddin ada tiga jenis kezuhudan yaitu : pertama, Kezuhudan orang-orang awam dalam peringkat pertama. Kedua, kezuhudan orang-orang khusus (kezuhudan dalam kezuhudan). Hal ini berarti berubahnya kegembiraan yang merupakan hasil daripada zuhud hanyalah kegembiraan akhirat, sehingga nafsunya benar-benar hanya dipenuhi dengan akhirat. Ketiga, Kezuhudan orang-orang khusus dikalangan kaum khusus. Dalam peringkat ketiga ini adalah kezuhudan bersama Allah. Hal ini hanyalah dikhususkan bagi para Nabi dan manusia suci. Mereka telah merasa fana’ sehingga kehendaknya adalah kehendak Allah. Sedangkan menurut al-Sarraj ada tiga kelompok zuhud :

Kelompok pemula (mubtadiin), mereka adalah orang-orang yang kosong tangannya dari harta milik, dan juga kosong kalbunya.
Kelompok para ahli hakikat tentang zuhud (mutahaqqiqun fi al-zuhd). Kelompok ini dinyatakan sebagai orang-orang yang meninggalkan kesenangan-kesenangan jiwa dari apa-apa yang ada di dunia ini, baik itu berupa pujian dan penghormatan dari manusia.
Kelompok yang mengetahui dan meyakini bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah halal bagi mereka, namun yakin bahwa harta milik tidak membuat mereka jauh dari Allah dan tidak mengurangi sedikitpun kedudukan mereka, semuanya semata-mata karena Allah.

Faqr
Faqr bermakna senantiasa merasa butuh kepada Allah. Sikap faqr sangat erat hubungannya dengan sikap zuhud. Jika zuhud bermakna meninggalkan atau menjauhi keinginan terhadap hal-hal yang bersifat materi (keduniaan) yang sangat diinginkan maka faqr berarti mengosongkan hati dari ikatan dan keinginan terhadap apa saja selain Allah, kebutuhannya yang hakiki hanya kepada Allah semata.

Orang yang faqr bukan berarti tidak memiliki apa-apa, namun orang faqir adalah orang yang kaya akan dengan Allah semata, orang yang hanya memperkaya rohaninya dengan Allah. Orang yang bersikap faqr berarti telah membebaskan rohaninya dari ketergantungan kepada makhluk untuk memenuhi hajat hidupnya. Ali Uthman al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub, mengutip seorang sufi yang mengatakan “Faqir bukan orang yang tak punya rezeki/penghasilan, melainkan yang pembawaan dirinya hampa dari nafsu rendah”. Dia juga mengutip perkataan Syekh Ruwaym bahwa “Ciri faqir ialah hatinya terlindung dari kepentingan diri, dan jiwanya terjaga dari kecemaran serta tetap melaksanakan kewajiban agama.”

Sabr
Sabar secara etimologi berarti tabah hati. Dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah disebutkan bahwa kata sabar memiliki tiga arti yaitu menahan, sesuatu yang paling tinggi dan jenis bebatuan.[11] Sabar menurut terminologi adalah menahan jiwa dari segala apa tidak disukai baik itu berupa kesenangan dan larangan untuk mendapatkan ridha Allah. Dalam perspektif tasawuf sabar berarti menjaga menjaga adab pada musibah yang menimpanya, selalu tabah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya serta tabah menghadapi segala peristiwa. Sabar merupakan kunci sukses orang beriman. Sabar itu seperdua dari iman karena iman terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi syukur baik itu ketika bahagia maupun dalam keadaan susah.[12] Makna sabar menurut ahli sufi pada dasarnya sama yaitu sikap menahan diri terhadap apa yang menimpanya.

Menurut al-Sarraj sabar terbagi atas tiga macam yaitu: orang yang berjuang untuk sabar, orang yang sabar dan orang yang sangat sabar.

Tawakkal
Tawakkal bermakna ‘berserah diri’. Tawakkal dalam tasawuf dijadikan washilah untuk memalingkan dan menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin dan memikirkan keduniaan serta apa saja selain Allah. Pada dasarnya makna atau konsep tawakkal dalam dunia tasawuf berbeda dengan konsep agama. Tawakkal menurut para sufi bersifat fatalis, menggantungkan segala sesuatu pada takdir dan kehendak Allah. Syekh Abdul Qadir Jailany menyebut dalam kitabnya bahwa semua yang menjadi ketentuan Tuhan sempurna adanya, sungguh tidak berakhlak seorang salik jika ia meminta lebih dari yang telah ditentukan Tuhan.[13]

Ridha
Pada dasarnya beberapa ulama mengemukakan konsep ridha secara berbeda. Seperti halnya ulama Irak dan Khurasan yang berbeda mengenai konsep ini, apakah ia termasuk bagian dari maqam atau hal. Maqam ridha adalah ajaran untuk menanggapi dan mengubah segala bentuk penderitaan, kesengsaraan menjadi kegembiraan dan kenikmatan. Dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyah disebutkan beberapa pendapat ulama mengenai makna ridha[14], diantaranya pendapat Ruwaim yang mengatakan bahwa: الرضا: أن لو جعل الله جهنم على يمينه ما سأل أن يحولها إلى يساره. , sedang Abu Bakar Ibn Thahir berkata: الرضا: إخراج الراهية من القلب، حتى لا يكون فيه إلا فرح وسرور. . Menurut Imam al-Gazali ridha merupakan buah dari mahabbah. Dalam perspektif tasawuf ridha berarti sebuah sikap menerima dengan lapang dada dan senang terhadap apapun keputusan Allah kepada seorang hamba, meskipun hal tersebut menyenangkan atau tidak. Sikap ridha merupakan buah dari kesungguhan seseorang dalam menahan hawa nafsunya.[15]

Ridha menurut al-Sarraj merupakan sesuatu yang agung dan istimewa, maksudnya bahwa siapa yang mendapat kehormatan dengan ridha berarti ia telah disambut dengan sambutan paling sempurna dan dihormati dengan penghormatan tertinggi. Dalam kitabnya al-Luma’ al-sarraj lebih lanjut mengemukakan bahwa maqam ridha adalah maqam terakhir dari seluruh rangkaian maqamat. Imam al-Gazali mengatakan bahwa hakikat ridha adalah tatkala hati senantiasa dalam keadaan sibuk mengingatnya. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa seluruh aktivitas kehidupan manusia hendaknya selalu berada dalam kerangka mencari keridhaan Allah.

C. Ahwal
Ahwal adalah bentuk jamak dari ‘hal’ yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.[16] Ibn Arabi menyebut hal sebagai setiap sifat yang dimiliki seorang salik pada suatu waktu dan tidak pada waktu yang lain, seperti kemabukan dan fana’. Eksistensinya bergantung pada sebuah kondisi. Ia akan sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi ada. Hal tidak dapat dilihat dilihat tetapi dapat dipahami dan dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan karenanya sulit dilukiskan dengan ungkapan kata.[17]

Telah disebutkan diatas bahwa penjelasan mengenai perbedaan maqamat dan hal membingungkan karena definisi dari masing-masing tokoh tasawuf berbeda tetapi umumnya yang dipakai sebagai berikut: Maqamat adalah perjalanan spiritual yang diperjuangkan oleh para sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan kendala untuk menuju Tuhan. Didalam kenyataannya para Salik memang untuk berpindah dari satu maqam ke maqam lain memerlukan waktu berbilang tahun, sedangkan “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa hal adalah anugerah dan maqam adalah perolehan (kasb). Tidak ada maqam yang tidak dimasuki hal dan tidak ada hal yang terpisah dari maqam.[18]

Beberapa ulama mengatakan bahwa hal adalah sesuatu yang tidak diam dan tidak mengikat (dinamis). Al-Gazali dalam memberi pandangan yang menyatakan bahwa apabila seseorang telah mantap dan tetap dalam suatu maqam, ia akan memperoleh suatu perasaan tertentu dan itulah hal. Mengenai hal ini ia juga memberi contoh tentang warna kuning yang dapat dibagi menjadi dua bagian, ada warna kuning yang tetap seperti warna kuning pada emas dan warna kuning yang dapat berubah seperti pada sakit kuning. Seperti itulah kondisi atau hal seseorang. Kondisi atau sifat yang tetap dinamakan maqam sedangkan yang sifatnya berubah dinamakan hal. Menurut Syihabuddin Suhrawardi seseorang tidak mungkin naik ke maqam yang lebih tinggi sebelum memperbaiki maqam sebelumnya. Namun, sebelum beranjak naik, dari maqam yang lebih tinggi turunlah hal yang dengan itu maqamnya menjadi kenyataan.[19] Oleh karena itu, kenaikan seorang salik dari satu maqam ke maqam berikutnya disebabkan oleh kekuasaan Allah dan anugerahNya, bukan disebabkan oleh usahanya sendiri. pernyataan diatas memberikan pemahaman bahwa maqam bersifat lebih permanent keberadaannya pada diri sang salik daripada hal. Selain itu, maqamat lebih merupakan hasil upaya aktif para salik, sedangkan ahwal merupakan anugerah atau uluran Allah yang sifatnya pasif.

Sebagaimana halnya dengan maqam, hal juga terdiri dari beberapa macam. Namun, konsep pembagian atau formulasi serta jumlah hal berbeda-beda dikalangan ahli sufi. Diantara macam-macam hal yaitu; muraqabah, khauf, raja’, syauq, Mahabbah, tuma’ninah, musyahadah, yaqin.

1. Muraqabah
Secara etimologi muraqabah berarti menjaga atau mengamati tujuan. Adapun secara terminologi muraqabah adalah salah satu sikap mental yang mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dan merasa diri diawasi oleh penciptanya.[20] Pengertian tersebut sejalan dengan pendangan al-Qusyairi bahwa muraqabah adalah keadaan mawas diri kepada Allah dan mawas diri juga berarti adanya kesadaran sang hamba bahwa Allah senantiasa melihat dirinya.

2. Khauf
Menurut al-Qusyairi, takut kepada Allah berarti takut terhadap hukumnya. Al-khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya atau rasa takut dan khawatir jangan sampai Allah merasa tidak senang kepadanya. Ibn Qayyim memandang khauf sebagai perasaan bersalah dalam setiap tarikan nafas. Perasaan bersalah dan adanya ketakutan dalam hati inilah yang menyebabkan orang lari menuju Allah.

4. Raja’
Raja’ bermakna harapan. Al-Gazali memandang raja’ sebagai senangnya hati karena menunggu sang kekasih datang kepadanya. Sedangkan menurut al-Qusyairi raja’ adalah keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa akan datang. Sementara itu, Abu Bakar al-Warraq menerangkan bahwa raja’ adalah kesenangan dari Allah bagi hati orang-orang yang takut, jika tidak karena itu akan binasalah diri mereka dan hilanglah akal mereka. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan ahli sufi diatas dapat dipahami bahwa raja’ adalah sikap optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi hambaNya yang saleh dan dalam dirinya timbul rasa optimis yang besar untuk melakukan berbagai amal terpuji dan menjauhi perbuatan yang buruk dan keji.

5. Syauq
Syauq bermakna lepasnya jiwa dan bergeloranya cinta. Para ahli sufi menyatakan bahwa syauq merupakan bagian dari mahabbah. Sehingga pengertian syauq dalam tasawuf adalah suasana kejiwaan yang menyertai mahabbah. Rasa rindu ini memancar dari kalbu karena gelora cinta yang murni. Untuk menimbulkan rasa rindu kepada Allah maka seorang salik terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah. Jika pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah telah mendalam, maka hal tersebut akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang akan menimbulkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu, rasa rindu untuk selalu bertemu dan bersama Allah.

6. Mahabbah
Cinta (mahabbah) adalah pijakan atau dasar bagi kemuliaan hal. Seperti halnya taubat yang menjadi dasar bagi kemuliaan maqam.[21] Al-Junaid menyebut mahabbah sebagai suatu kecenderungan hati. Artinya, hati seseorang cenderung kepada Allah dan kepada segala sesuatu yang datang dariNya tanpa usaha. Adapun dasar paham mahabbah antara lain dalam firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”[22]

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[23]

Adapun tanda-tanda mahabbah menurut Suhrawardi yaitu; 1) di dalam hati sang pencinta tidak ada kecintaan pada dunia dan akhirat nanti. 2) ia tidak boleh cenderung pada keindahan atau kecantikan lain yang mungkin terlihat olehnya atau mengalihkan pandangannya dari keindahan Allah. 3) ia mesti lebih mencintai sarana untuk bersatu dengan kekasih dan tunduk. 4) karena dipenuhi dan dibakar cinta, ia mestilah menyebut-nyebut nama Allah tanpa lelah. 5) Ia harus mengabdi kepada Allah dan tidak menentang perintahNya. 6) apapun pilhannya pandangannya selalu mengharapkan keridhaan Allah. 7) menyaksikan Allah dan bersatu denganNya tidak harus mengurangi kadar cinta dalam dirinya. Dalam dirinya harus bangkit sifat syauq, dan ketakjuban.

Tokoh utama paham mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah (95 H-185 H). Menurutnya, cinta kepada Allah merupakan cetusan dari perasaan cinta dan rindu yang mendalam kepada Allah. Konsep mahabbahnya banyak tertuang dalam syair-syairnya.

7. Tuma’ninah
Secara bahasa tuma’ninah berarti tenang dan tentram. Tidak ada rasa was-was atau khawatir, tak ada yang dapat mengganggu perasaan dan pikiran karena ia telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi. Menurut al-Sarraj tuma’ninah sang hamba berarti kuat akalnya, kuat imannya, dalam ilmunya dan bersih ingatannya. Seseorang yang telah mendapatkan hal ini sudah dapat berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.

8. Musyahadah
Dalam perspektif tasawuf musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat dengan mata kepala. Hal ini berarti dalam dunia tasawuf seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Musyahadah dapat dikatakan merupakan tujuan akhir dari tasawuf, yakni menemukan puncak pengalaman rohani kedekatan hamba dengan Allah. Dalam pandangan al-Makki, musyahadah juga berarti bertambahnya keyakinan yang kemudian bersinar terang karena mampu menyingkap yang hadir (di dalam hati). Seorang sufi yang telah berada dalam hal musyahadah merasa seolah-olah tidak ada lagi tabir yang mengantarainya dengan Tuhannya sehingga tersingkaplah segala rahasia yang ada pada Allah.

9. Yaqin
Al-yaqin berarti perpaduan antara pengetahuan yang luas serta mendalam dan rasa cinta serta rindu yang mendalam pula sehingga tertanamlah dalam jiwanya perjumpaan secara langsung dengan Tuhannya. Dalam pandangan al-Junaid yaqin adalah tetapnya ilmu di dalam hati, ia tidak berbalik, tidak berpindah dan tidak berubah. Menurut al-Sarraj yaqin adalah fondasi dan sekaligus bagian akhir dari seluruh ahwal. Dapat juga dikatakan bahwa yaqin merupakan esensi seluruh ahwal .

 

 

 

 

 

 

 

 

 
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariyya Abu al-Husain, Maqayis al-Lughah, Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Gazali, Ihya Ulumuddin, Dar al-Ma’rifah: Beirut, tt.
Al-Jailani Syekh Abdul Qadir, Rahasia Sufi Agung, penerj. Abdul Madjid, (Cet. I; DIVA press: Yogyakarta, 2008)
Al-Qusyairiy, al-Risalah al-Qusyairiyah (CD al-Maktabah al-Syamilah)
al-Turmudzi Abu Isa Muhammad Ibn Isa Ibn Saurah, Sunan al Turmudzi, Beirut: Dar al Fikr, 1994).
Azra Azyumardi dkk, Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005.
Bagir Haidar, Buku Saku Tasawuf, (Cet. II; Mizan: Bandung), 2006.
Basyuniy Ibrahim, Nasy’ah al-Taswuf al-Islamiy, Dar al-Ma’arif: Mesir, 1119 H[1]
Rahman Fazlur, Islam, Terjemahan oleh Ahsin Muhammad dari Islam, (Bandung: Pustaka, 1984)
Simuh, Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam, (Cet. II; Raja Grafindo Persada: Jakarta), 1997.
Suhrawardi Syekh Syihabuddin Umar, Awarif al-Ma’arif., (ter. Edisi Indonesia Oleh Ilma Nugraha ni Ismail), Pustaka Hidayah, Bandung, 1998.
Zainul Bahri Media, Menembus Tirai KesendirianNya: Mengurai Maqamat dan Ahwal Dalam Tradisi Sufi, (Cet. I; Prenada Media: Jakarta), 2005.

——————————————————————————–
[1] Fazlur Rahman, Islam, Terjemahan oleh Ahsin Muhammad dari Islam, (Bandung: Pustaka, 1984), h. 195.
[2] Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf, (Cet. II; Mizan: Bandung), 2006, h. 133.
[3] Ibid, h. 131.
[4] Media Zainul Bahri, Menembus Tirai KesendirianNya: Mengurai Maqamat dan Ahwal Dalam Tradisi Sufi, (Cet. I; Prenada Media: Jakarta), 2005, h. 44.
[5] Simuh, Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam, (Cet. II; Raja Grafindo Persada: Jakarta), 1997, h. 49.
[6] Abu al-Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariyya, Maqayis al-Lughah, Beirut: Dar al-Fikr, Juz VI, h. 75.
[7] Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dengan sanad yang garib. selain Turmudzi hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik, Ibn Majah dan Imam Ahmad. (Abu Isa Muhammad Ibn Isa Ibn Saurah al-Turmudzi, Sunan al Turmudzi, Beirut: Dar al Fikr, 1994), bab فيمن تكلم بكلمة يضحك بها الناس Juz VIII, h. 294.
[8] Media Zainul Bahri, Menembus Tirai KesendirianNya: Mengurai Maqamat dan Ahwal Dalam Tradisi Sufi, Op. Cit, h. 52.
[9] Syekh Syihabuddin Umar Suhrawardi, Awarif al-Ma’arif., (ter. Edisi Indonesia Oleh Ilma Nugraha ni Ismail), Pustaka Hidayah, Bandung, 1998, h. 163
[10] Asketisme pada mulanya merupakan suatu sikap biarawan atau rahib-rahib yang menghindari kehidupan dunia dengan harapan bisa menyucikan diri agar dapat bertemu dengan Tuhan. Lihat Haidar Bagir. Buku Saku Tasawuf, Op. Cit. h. 105
[11] Abu al-Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariya, Mu’jam Maqayis al-Lughah, Beirut: Dar al-Fikr. Juz I, h. 329.
[12] Hal tersebut sejalan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Suhaib:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

[13] Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rahasia Sufi Agung, penerj. Abdul Madjid, (Cet. I; DIVA press: Yogyakarta, 2008), h. 362.
[14] Imam Qusyairy, al-Risalah al-Qusyairiyah, Juz I, h. 89.
[15] Ibrahim Basyuniy, Nasy’ah al-Taswuf al-Islamiy, Dar al-Ma’arif: Mesir, 1119 H, h. 139.
[16] Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf, Loc. Cit, h. 133.
[17] Azyumardi Azra dkk, Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005, h. 287.
[18] Syihabuddin Umar Suhrahwardi, ‘Awarif al-Ma’arif, Op. Cit, h. 109.
[19] Ibid, h. 111.
[20] Ensiklopedi Islam, Op. Cit, h. 287.
[21] Syihabuddin Umar Suhrahwardi, ‘Awarif al-Ma’arif, Op. Cit, h. 185.

MUKMIN SEJATI

    Mukmin Sejati

Mukmin sejati ibarat seperti lebah. kenapa kok lebah?”  “Karena lebah mempunyai keistimewaan-keistimewaan sebagai mana seorang mukmin yang sejati.”

1.     Taat

Taatnya lebah kepada pimpinanya,yaitu seekor lebah selalu taat terhadap rajanya, kemanapun rajanya itu pindah tempat, lebah yang sejati selalu taat mengikuti rajanya.

Begitu pula mu’min yang sejati akan selalu taat apa yang di perintahkan Allah dan menjauhi laranganya(TAQWA).

2.     Memberi Manfaat

Lebah menghasilkan madu yang banyak member manfaat pada yang lain, misalnya dibuat  sebagai asyifa’(pengobatan), dll.

Begitu juga Mu’min yang sejati didalam hidupnya akan selalu memberi manfaat bagi yang lain.

3.     Selektif

Lebah selalu selektif dalam mengkonsumsi makananya, yaitu hanya menghisap sari-sari bunga saja.

Begitu juga seorang mu’min yang sejati , selalu selektif dalam mengkonsumsi makananya, yaitu yang halal dan toyib.

 

        4.   Tidak Merugikan Yang Lain

Lebah setiap hinggap di bunga ia tidak pernah mematah kan tangkai bunga itu.

Begitu pula mu’min yang sejati, dimanapun ia tinggal tidak akan pernah membuat masalah di tempat yang ia tinggali.

        5.     Marah

Lebah juga akan marah jika ia di ganggu dan pasti ia akan menyerang pengganggu itu dan langsung mengentubnya.

Begitu pula mu’min yang sejati juga akan marah jika keyakinanya/agamanya dilecehkan oleh orang lain.

EFISIENSI, PENDEKATAN / METODE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR

NAMA : ALI IMRON WAHID
NIM : 152111579
FAKULTAS : AGAMA ISLAM
JURUSAN : TARBIYAH
EFISIENSI, PENDEKATAN / METODE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR

A. Efisiensi Belajar Definisi Efisiensi Belajar
Pada umumnya orang melakukan usaha atau bekerja dengan harapan memperoleh hasil yang banyak tanpa mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu yang banyak pula, atau dengan kata lain efisien.
Ada dua macam efisiensi belajar yang dapat dicapai siswa, yaitu:
1) Efisiensi usaha belajar;
2) Efisiensi Hasil Belajar.
3) Efisiensi Usaha Belajar
2. Efisiensi Usaha Belajar
Suatu kegiatan belajar dapat dikatakan efisien kalau prestasi belajar yang diinginkan dapat dicapai dengan usaha yang minimal.
Model 1
Efisiensi dari Sudut Usaha Belajar
Usaha Belajar Alan
Prestasi belajar
Alex,Alan dan Ali sama

Usaha Belajar Alex

Usaha Belajar Ali
Model 1 di atas menyatakan bahwa Ali lebih efisien dari pada Alan dan Alex, karena dengan uasaha yang minim dapat mencapai hasil belajar yang sama tingginya dengan prestasi belajar Alan dan Alex. Namun, usaha sekeras apa pun takkan membuahkan hasil yaang memuaskan jika tidak dibarengi dengan strategi dan pendekatan yang efisien.
3. Efisiensi Hasil Belajar
Sebuah kegiatan belajar dapat pula dikatakan efisien apabila dengan usaha belajar tertentu memberikan prestasi belajar tertinggi.
Model 2
Efisiensi dari Sudut Hasil Belajar
Prestasi Ali
tinggi
Prestasi Alan
sedang

Usaha belajar Alex,Alan dan Ali sama

Prestasi Alex
rendah

Model 2 diatas memperlihatkan bahwa Ali adalah siswa yang juga efisien ditinjau dari prestasi yang dicapai, karena ia menunjukkan perbandingan yang terbaik dari sudut hasil. Dalam hal ini, meskipun usaha belajar Ali sama besarnya dengan usaha Alan dan Alex, ia memperoleh prestasi yang lebih tinggi dari pada prestasi Alan dan Alex.
B. Pendekatan dan Metode Belajar
1. Ragam Pendekatan Belajar
a) Pendekatan Hukum Jost
Menurut Reber (1988), salah satu asumsi penting yang mendasari Hukum Jost (Jost’ Law) adalah siswa yang lebih sering mempraktekkan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang sedang ia tekuni.
Selanjutnya, berdasarkan asumsi Hukum Jost itu maka belajar dengan kiat 5 x 3 adalah lebih baik dari pada 3 x 5 walaupun hasil perkalian kedua kiat tersebut sama.
b) Pendekatan Ballard & Clanchy Menurut Ballard & Clanchy (1990), pendekatan belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan (attitude to knowledge). Ada dua macam siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan, yaitu: 1) sikap pelestarian apa yang sudah ada (conserving); dan 2) sikap memperluas (extending).
c) Pendekatan Biggs Menurut hasil penelitian Biggs (1991), pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk dasar,yaitu:
1. Pendekatan surface (permukaan / bersifat lahiriah);
2. Pendekatan deep (mendalam);
3. Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi)
Tabel 1
Perbandingan Pendekatan Belajar Ballard & Clanchy
Ragam pendekatan Belajar dan Karakteristiknya
Reproduktif Analisis Spekulatif
Strateginya:
 Menghafal
 Meniru
 Menjelaskan
 Meringkas

Pertanyaanya:
 Apa?

Tujuanya:
Pembenaran/penyebutan kembali materi. Strateginya:
 Berfikir kritis
 Mempertanyakan
 Menimbang-nimbang
 Berargumen
Pertanyaan:
 Mengapa?
 Bagaimana?
 Apa betul?
 Apa penting?
Tujuanya:
Pembentukan kembali materi kedalam pola baru/berbeda. Strategi:
 Sengaja mencari kemungkinan dan penjelasan baru
 Berspekulasi dan membuat hipotesis

Pertanyaan:
 Bagaimana kalau…?

Tujuan:
Menciptakan/mengembangkan materi pengetahuan
Tabel 2
Perbandingan Prototype Pendekatan Belajar Biggs
Prototipe
Pendekatan Belajar Motif
Dan Karakteristik Strategi
1.Surface approach (pendekatan permukaan)

2.Deep approach (pendekatan mendalam)

3.Achieving approach (pendekatan mencapai prestasi tinggi) Ekstrinsik dg ciri menghindari kegagalan tapi tidak belajar keras.

Intrinsik dg ciri berusahamemuaskan keinginan terhadap isi materi.

Memusatkan pada rincian-rincian materi dan mereproduksi secara persis.
Memaksimalkan pemahaman dengan berfikir, banyak membaca dan diskusi.

Ego-enhacemen dengan cirri bersaing untuk mencari nilai/prestasi tinggi.

Mengoptimalkan pengaturan waktu dan usaha belajar (study skill)

Siswa yang menggunakan pendekatan surface misalnya,mau belajar karena dorongan dari luar(ekstrinsik) takut tidak lulus yang mengakibatkan dia malu.
Sebaliknya, siswa yang menggunakan pendekatan deep biasanya mempelajari materi karena memang dia tertarik dan merasa membutuhkanya(intrinsik).
Sementara itu, siswa yang menggunakan pendekatan achieving pada umumnya dilandasi oleh motif ekstrinsik yang berciri khusus yang disebut “ego-enhancement” yaitu ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih indeks prestasi setinggi-tingginya.
2. Ragam Metode Belajar
a. Metode SQ3R (Francis P.Robinson di Unifersitas Negeri Ohio Amerika Serikat)
SQ3R pada prinsipnya merupakan singkatan langkah-langkah mempelajari teks yang meliputi:
1. Survey, maksudnya memeriksa atau meneliti mengidentifikasi seluruh teks;
2. Question, maksudnya menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks;
3. Read, maksudnya membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun;
4. Recite, maksudnya menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan;
5. Review, maksudnya meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga.

b. Metode PQ4R (Thomas & Robinson ,1972)
Metode PQ4R itu sesuai dengan kepanjanganya terdiri atas enam langkah pendukung upaya pembelajaran,sebagai mana yang dianjurkan Anderon dibawah ini:
1. Preview, Bab yang akan dipelajari hendaknya disurvei terlebih dahulu untuk menentukan topik umum yang terdapat didalamnya.Kemudian mengidentifikasikan subbab-subbab yang ada dalam bab tersebut.
2. Question, Pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan subbab hendaknya disusun .
3. Read, Isi subbab hendaknya dibaca secara cermat sambil mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun.
4. Reflect, Selama membaca, isi subbab hendaknya dikenang secara mendalam seraya berusaha memahami isi dan menangkap contoh-contohnya serta menghubungkanya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
5. Recite, Setelah sebuah subbab selesai dibaca, informasi didalamnya hendaknya diingat-ingat. Lalu, menjawabnya, kalau ada bagian yang sulit diingat dan menyebabkan kesalahan jawaban maka hendaknya dibaca lagi.
6. Review, Setelah menyelesaikan satu bab, tanamkanlah materi bab tersebut kedalam memori sambil mengingat-ingat intisari-intisarinya. Kemudian jawablah sekalilagi pertanyaan yang berhubungan dengan subbab-subbab dari bab tersebut.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar
1. Faktor Internal Siswa
Faktor Internal, yakni faktor yang berasal dari diri manusia itu sendiri yang meliputi dua aspek, yakni: 1)aspek fisiologi (yang bersifat jasmaniah); 2) aspek psikologi (yang bersifat rohaniah).
1) Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Dan banyak lagi aspek-aspek fisiologi yang dapat berpengaruh dalam belajar, misalnya; pusing, sakit, lelah,dsb.
2) Aspek Psikologi
Faktor – faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut: 1)tingkat kecerdasan / inteligensi siswa; 2)sikap siswa; 3) bakat siswa; 4) minat siswa; 5) motifasi siswa
2. Faktor Eksternal Siswa
Faktor Eksternal ini terdiri atas dua macam, yakni: faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonnasional.
1) Lingkungan Sosial
Didalam sekolah, seperti; guru, para staf administrasi, teman-teman sekelas,dll.
Dimasyarakat, seperti; tetangga, teman bergaul, kondisi lingkungan,dll.
Dikeluarga, seperti; hubungan dengan orang tua, hubungan dengan saudara, telefisi, ekonomi,dll.

NAMA : ALI IMRON WAHID
NIM : 152111579
FAKULTAS : AGAMA ISLAM
JURUSAN : TARBIYAH
EFISIENSI, PENDEKATAN / METODE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR

A. Efisiensi Belajar Definisi Efisiensi Belajar
Pada umumnya orang melakukan usaha atau bekerja dengan harapan memperoleh hasil yang banyak tanpa mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu yang banyak pula, atau dengan kata lain efisien.
Ada dua macam efisiensi belajar yang dapat dicapai siswa, yaitu:
1) Efisiensi usaha belajar;
2) Efisiensi Hasil Belajar.
3) Efisiensi Usaha Belajar
2. Efisiensi Usaha Belajar
Suatu kegiatan belajar dapat dikatakan efisien kalau prestasi belajar yang diinginkan dapat dicapai dengan usaha yang minimal.
Model 1
Efisiensi dari Sudut Usaha Belajar
Usaha Belajar Alan
Prestasi belajar
Alex,Alan dan Ali sama

Usaha Belajar Alex

Usaha Belajar Ali
Model 1 di atas menyatakan bahwa Ali lebih efisien dari pada Alan dan Alex, karena dengan uasaha yang minim dapat mencapai hasil belajar yang sama tingginya dengan prestasi belajar Alan dan Alex. Namun, usaha sekeras apa pun takkan membuahkan hasil yaang memuaskan jika tidak dibarengi dengan strategi dan pendekatan yang efisien.
3. Efisiensi Hasil Belajar
Sebuah kegiatan belajar dapat pula dikatakan efisien apabila dengan usaha belajar tertentu memberikan prestasi belajar tertinggi.
Model 2
Efisiensi dari Sudut Hasil Belajar
Prestasi Ali
tinggi
Prestasi Alan
sedang

Usaha belajar Alex,Alan dan Ali sama

Prestasi Alex
rendah

Model 2 diatas memperlihatkan bahwa Ali adalah siswa yang juga efisien ditinjau dari prestasi yang dicapai, karena ia menunjukkan perbandingan yang terbaik dari sudut hasil. Dalam hal ini, meskipun usaha belajar Ali sama besarnya dengan usaha Alan dan Alex, ia memperoleh prestasi yang lebih tinggi dari pada prestasi Alan dan Alex.
B. Pendekatan dan Metode Belajar
1. Ragam Pendekatan Belajar
a) Pendekatan Hukum Jost
Menurut Reber (1988), salah satu asumsi penting yang mendasari Hukum Jost (Jost’ Law) adalah siswa yang lebih sering mempraktekkan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang sedang ia tekuni.
Selanjutnya, berdasarkan asumsi Hukum Jost itu maka belajar dengan kiat 5 x 3 adalah lebih baik dari pada 3 x 5 walaupun hasil perkalian kedua kiat tersebut sama.
b) Pendekatan Ballard & Clanchy Menurut Ballard & Clanchy (1990), pendekatan belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan (attitude to knowledge). Ada dua macam siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan, yaitu: 1) sikap pelestarian apa yang sudah ada (conserving); dan 2) sikap memperluas (extending).
c) Pendekatan Biggs Menurut hasil penelitian Biggs (1991), pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk dasar,yaitu:
1. Pendekatan surface (permukaan / bersifat lahiriah);
2. Pendekatan deep (mendalam);
3. Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi)
Tabel 1
Perbandingan Pendekatan Belajar Ballard & Clanchy
Ragam pendekatan Belajar dan Karakteristiknya
Reproduktif Analisis Spekulatif
Strateginya:
 Menghafal
 Meniru
 Menjelaskan
 Meringkas

Pertanyaanya:
 Apa?

Tujuanya:
Pembenaran/penyebutan kembali materi. Strateginya:
 Berfikir kritis
 Mempertanyakan
 Menimbang-nimbang
 Berargumen
Pertanyaan:
 Mengapa?
 Bagaimana?
 Apa betul?
 Apa penting?
Tujuanya:
Pembentukan kembali materi kedalam pola baru/berbeda. Strategi:
 Sengaja mencari kemungkinan dan penjelasan baru
 Berspekulasi dan membuat hipotesis

Pertanyaan:
 Bagaimana kalau…?

Tujuan:
Menciptakan/mengembangkan materi pengetahuan
Tabel 2
Perbandingan Prototype Pendekatan Belajar Biggs
Prototipe
Pendekatan Belajar Motif
Dan Karakteristik Strategi
1.Surface approach (pendekatan permukaan)

2.Deep approach (pendekatan mendalam)

3.Achieving approach (pendekatan mencapai prestasi tinggi) Ekstrinsik dg ciri menghindari kegagalan tapi tidak belajar keras.

Intrinsik dg ciri berusahamemuaskan keinginan terhadap isi materi.

Memusatkan pada rincian-rincian materi dan mereproduksi secara persis.
Memaksimalkan pemahaman dengan berfikir, banyak membaca dan diskusi.

Ego-enhacemen dengan cirri bersaing untuk mencari nilai/prestasi tinggi.

Mengoptimalkan pengaturan waktu dan usaha belajar (study skill)

Siswa yang menggunakan pendekatan surface misalnya,mau belajar karena dorongan dari luar(ekstrinsik) takut tidak lulus yang mengakibatkan dia malu.
Sebaliknya, siswa yang menggunakan pendekatan deep biasanya mempelajari materi karena memang dia tertarik dan merasa membutuhkanya(intrinsik).
Sementara itu, siswa yang menggunakan pendekatan achieving pada umumnya dilandasi oleh motif ekstrinsik yang berciri khusus yang disebut “ego-enhancement” yaitu ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih indeks prestasi setinggi-tingginya.
2. Ragam Metode Belajar
a. Metode SQ3R (Francis P.Robinson di Unifersitas Negeri Ohio Amerika Serikat)
SQ3R pada prinsipnya merupakan singkatan langkah-langkah mempelajari teks yang meliputi:
1. Survey, maksudnya memeriksa atau meneliti mengidentifikasi seluruh teks;
2. Question, maksudnya menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks;
3. Read, maksudnya membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun;
4. Recite, maksudnya menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan;
5. Review, maksudnya meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga.

b. Metode PQ4R (Thomas & Robinson ,1972)
Metode PQ4R itu sesuai dengan kepanjanganya terdiri atas enam langkah pendukung upaya pembelajaran,sebagai mana yang dianjurkan Anderon dibawah ini:
1. Preview, Bab yang akan dipelajari hendaknya disurvei terlebih dahulu untuk menentukan topik umum yang terdapat didalamnya.Kemudian mengidentifikasikan subbab-subbab yang ada dalam bab tersebut.
2. Question, Pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan subbab hendaknya disusun .
3. Read, Isi subbab hendaknya dibaca secara cermat sambil mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun.
4. Reflect, Selama membaca, isi subbab hendaknya dikenang secara mendalam seraya berusaha memahami isi dan menangkap contoh-contohnya serta menghubungkanya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
5. Recite, Setelah sebuah subbab selesai dibaca, informasi didalamnya hendaknya diingat-ingat. Lalu, menjawabnya, kalau ada bagian yang sulit diingat dan menyebabkan kesalahan jawaban maka hendaknya dibaca lagi.
6. Review, Setelah menyelesaikan satu bab, tanamkanlah materi bab tersebut kedalam memori sambil mengingat-ingat intisari-intisarinya. Kemudian jawablah sekalilagi pertanyaan yang berhubungan dengan subbab-subbab dari bab tersebut.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar
1. Faktor Internal Siswa
Faktor Internal, yakni faktor yang berasal dari diri manusia itu sendiri yang meliputi dua aspek, yakni: 1)aspek fisiologi (yang bersifat jasmaniah); 2) aspek psikologi (yang bersifat rohaniah).
1) Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Dan banyak lagi aspek-aspek fisiologi yang dapat berpengaruh dalam belajar, misalnya; pusing, sakit, lelah,dsb.
2) Aspek Psikologi
Faktor – faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut: 1)tingkat kecerdasan / inteligensi siswa; 2)sikap siswa; 3) bakat siswa; 4) minat siswa; 5) motifasi siswa
2. Faktor Eksternal Siswa
Faktor Eksternal ini terdiri atas dua macam, yakni: faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonnasional.
1) Lingkungan Sosial
Didalam sekolah, seperti; guru, para staf administrasi, teman-teman sekelas,dll.
Dimasyarakat, seperti; tetangga, teman bergaul, kondisi lingkungan,dll.
Dikeluarga, seperti; hubungan dengan orang tua, hubungan dengan saudara, telefisi, ekonomi,dll.